Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) kepada anggota Intelijen Keamanan Negara Polda Lampung, Brigadir Arya Supena (32), yang gugur saat menjalankan tugas. Brigadir Arya meninggal dunia setelah berupaya menggagalkan aksi pencurian kendaraan bermotor di Bandar Lampung pada Minggu (10/5/2026).
Keputusan pemberian pangkat ini dikonfirmasi langsung oleh Jenderal Sigit sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi personelnya di lapangan. Penghormatan tersebut diberikan mengingat almarhum kehilangan nyawa demi menjaga keamanan masyarakat dari tindak kejahatan.
"Sudah saya minta untuk diberikan KPLB atas pengabdiannya hingga gugur saat melaksanakan tugasnya," kata Jenderal Sigit saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (10/5/2026).
Kapolri menegaskan bahwa institusi Kepolisian Republik Indonesia sangat menghargai pengorbanan yang telah dilakukan oleh Brigadir Arya. Langkah ini diambil guna memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi anggota yang berdedikasi tinggi.
"Sebagai apresiasi dan penghormatan tertinggi dari institusi," tegas Jenderal Sigit.
Peristiwa tragis yang menimpa Brigadir Arya terjadi di halaman Toko Yussy Akmal, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, pada Sabtu (9/5/2026) pagi. Kejadian bermula sekitar pukul 05.30 WIB saat korban sedang melintas di lokasi tersebut dan melihat aktivitas mencurigakan.
Dilansir dari Nasional, korban sempat menegur dua orang pria yang kedapatan sedang merusak kunci setang sepeda motor milik warga. Namun, para pelaku justru merespons teguran tersebut dengan melepaskan tembakan senjata api ke arah Brigadir Arya.
Proses baku hantam dan upaya perlawanan korban sempat terekam oleh kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian selama 1 menit 42 detik. Dalam rekaman tersebut, Brigadir Arya terlihat sempat berduel fisik dengan pelaku sebelum akhirnya terjatuh akibat luka tembak jarak dekat pada bagian kepala.
Proyektil peluru dilaporkan mengenai kepala bagian kanan hingga tembus ke sisi kiri korban. Setelah melumpuhkan petugas, kedua pelaku melarikan diri menggunakan sepeda motor sambil menodongkan senjata api ke arah petugas kebersihan di sekitar lokasi guna membuka jalan pelarian.
Insiden ini meninggalkan duka mendalam bagi institusi Polri serta keluarga yang ditinggalkan. Brigadir Arya Supena meninggalkan seorang istri bernama Jovita dan dua orang anak yang masih kecil.