SERATUS delapan belas tahun lalu, tepatnya 20 Mei 1908, sejumlah pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia yang dipelopori dr. Soetomo mendirikan Budi Utomo.
Organisasi ini lahir bukan sebagai gerakan politik kemerdekaan seperti yang berkembang kemudian, melainkan sebagai upaya meningkatkan pendidikan, martabat, dan kemajuan kaum pribumi.
Namun dari organisasi inilah tumbuh kesadaran baru bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dibangun melalui pendidikan, persatuan, dan kemampuan berdiri di atas kekuatan sendiri.
Saat itu tantangan terbesar bangsa adalah kolonialisme. Musuhnya nyata, hadir dalam bentuk penjajahan fisik, dan ketimpangan sosial yang membatasi ruang gerak rakyat pribumi.
Kini, setelah 118 tahun berlalu, tantangan Indonesia berubah jauh lebih kompleks. Dunia memasuki era persaingan geopolitik yang semakin dinamis dan tidak menentu.
Rivalitas kekuatan besar, konflik kawasan, perubahan iklim, disrupsi teknologi, ancaman keamanan siber, hingga ketidakpastian ekonomi global membentuk lanskap tantangan baru yang tidak kalah berat dibanding masa perjuangan dahulu.
Konflik di berbagai kawasan dunia, dinamika keamanan di Timur Tengah, persaingan strategis Amerika Serikat dan Tiongkok, gangguan rantai pasok global pascapandemi dan konflik internasional, serta meningkatnya persaingan penguasaan teknologi menunjukkan bahwa batas antara isu keamanan, ekonomi, energi, pangan, dan teknologi semakin kabur.
Di tengah perubahan global tersebut, muncul pertanyaan penting: masih relevankah semangat Kebangkitan Nasional hari ini?
Menjawab pertanyaan tersebut, makna “bangkit” saat ini tidak lagi sekadar terbebas dari penjajahan fisik.
Bangkit pada masa kini berarti kemampuan Indonesia keluar dari berbagai bentuk ketertinggalan melalui pendidikan, penguatan sumber daya manusia, inovasi, serta persatuan nasional agar mampu bertahan di tengah perubahan geopolitik global tanpa kehilangan jati dirinya.
Dalam konteks itulah, ketahanan nasional menjadi prasyarat utama.
Ketahanan nasional bukan sekadar kemampuan menjaga pertahanan militer, melainkan kemampuan bangsa untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah tekanan serta perubahan global.
Ketahanan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari ekonomi, pangan, energi, teknologi, sosial budaya, hingga lingkungan hidup.
Di tengah persaingan global saat ini, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan persenjataannya.
Negara yang tangguh adalah negara yang mampu menjaga stabilitas ekonomi, menjamin ketahanan pangan, menguasai teknologi, membangun sumber daya manusia yang berkualitas, serta menjaga kohesi sosial di tengah derasnya arus perubahan dunia. Dalam konteks itulah, semangat Kebangkitan Nasional menemukan relevansinya kembali.
Di bidang ekonomi, Indonesia menghadapi tantangan pelemahan daya beli, tekanan nilai tukar, ketidakpastian pasar global, serta persaingan industri yang semakin ketat.
Ketergantungan pada pasar internasional membuat gejolak geopolitik dunia dapat langsung memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Di bidang pangan, perubahan iklim, ancaman krisis pangan global, serta ketergantungan terhadap impor komoditas strategis menjadi persoalan serius.
Ketahanan pangan bukan lagi sekadar isu pertanian, tetapi bagian penting dari keamanan nasional.
Di sektor energi, ketegangan geopolitik internasional menunjukkan bagaimana konflik antarnegara dapat memengaruhi pasokan energi dunia dan harga komoditas global. Indonesia dituntut memperkuat transisi energi sekaligus memastikan keamanan pasokan energi nasional.
Sementara itu, di bidang lingkungan hidup, tantangan tidak kalah besar. Kerusakan hutan, pencemaran, krisis air bersih, hingga perubahan iklim merupakan ancaman nyata yang dapat melemahkan kualitas hidup masyarakat dan ketahanan bangsa dalam jangka panjang.
Selain penguatan sektor strategis, pembangunan sumber daya manusia juga menjadi faktor yang menentukan daya tahan bangsa pada masa depan.
Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), terlepas dari berbagai perdebatan mengenai anggaran, prioritas, maupun mekanisme pelaksanaannya, sesungguhnya lahir dari gagasan besar tentang investasi jangka panjang bangsa.
Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun dari gedung pencakar langit, jalan tol, atau proyek infrastruktur besar.
Bangsa yang besar dibangun dari kualitas manusianya. Anak-anak yang terbebas dari stunting dan tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang baik, dan memiliki kesempatan berkembang akan menjadi fondasi daya saing Indonesia di masa depan.
Dalam konteks inilah semangat Kebangkitan Nasional dapat dimaknai kembali yaitu membangun manusia Indonesia secara utuh sebagai fondasi kekuatan bangsa.
Namun tantangan kebangkitan nasional masa kini tidak hanya bersifat material.
Indonesia juga menghadapi polarisasi sosial dan banjir informasi digital.
Media sosial sering memperlihatkan betapa mudah masyarakat terpecah oleh perbedaan politik, identitas, maupun pandangan kelompok. Hoaks menyebar lebih cepat daripada fakta.
Ruang publik dipenuhi kemarahan, sementara dialog yang sehat semakin sulit ditemukan.
Padahal para pendiri bangsa justru menunjukkan kemampuan untuk bersatu di tengah perbedaan.
Mereka berasal dari berbagai daerah, suku, dan latar pendidikan, tetapi mampu duduk bersama demi tujuan yang lebih besar: Indonesia.
Dalam konteks inilah gagasan Diplomasi Ketahanan yang disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono menjadi relevan dan sejalan dengan semangat kebangkitan nasional.
Menurut Sugiono, dunia saat ini bergerak dalam ketidakpastian yang semakin tinggi sehingga diplomasi Indonesia harus bersifat adaptif, realistis, dan berbasis ketahanan nasional.
Ia menegaskan bahwa “ketahanan tidak bisa dipinjam” dan hanya negara yang kuat secara internal yang akan memiliki daya tawar di tingkat global.
Diplomasi ketahanan memandang bahwa kekuatan Indonesia di luar negeri tidak semata ditentukan oleh kemampuan diplomatik, tetapi juga oleh kekuatan di dalam negeri berupa ekonomi yang tangguh, pangan yang aman, teknologi yang berkembang, masyarakat yang sehat, serta stabilitas sosial yang terjaga.
Ketahanan nasional menjadi fondasi utama daya saing sekaligus daya tawar Indonesia di tengah perubahan geopolitik global.
Karena itu, nasionalisme modern tidak berarti menutup diri dari dunia luar.
Para pendiri Budi Utomo dahulu juga belajar dari perkembangan internasional, tetapi tetap berpikir tentang kemajuan bangsanya sendiri.
Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk asing atau sekadar konsumen teknologi global.
Bangsa ini harus memperkuat riset, mendorong inovasi, membangun industri nasional, memperkuat diplomasi ekonomi, serta menyiapkan generasi muda yang kreatif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Keterbukaan terhadap dunia harus berjalan seiring dengan kemampuan menjaga karakter bangsa.
Pada akhirnya, Kebangkitan Nasional bukanlah peristiwa yang selesai pada tahun 1908. Ia adalah proses yang harus terus diperbarui sesuai tantangan zaman.
Dahulu perjuangan dilakukan melawan penjajahan fisik. Hari ini perjuangan dilakukan melawan kemiskinan, ketimpangan pendidikan, ketergantungan teknologi, krisis lingkungan, polarisasi sosial, dan ketidakpastian geopolitik global.
Seratus delapan belas tahun lalu, sekelompok mahasiswa STOVIA percaya bahwa bangsa ini dapat bangkit melalui kesadaran, pendidikan, dan persatuan.
Pertanyaannya hari ini adalah apakah kita masih memiliki keberanian yang sama untuk membangun Indonesia—bukan sekadar sebagai negara, tetapi sebagai ruang hidup bersama yang tangguh, adil, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang?