Jemaah Haji Tepi Barat Palestina Mulai Berangkat ke Arab Saudi

Jemaah Haji Tepi Barat Palestina Mulai Berangkat ke Arab Saudi

Kelompok pertama jemaah haji asal Tepi Barat, Palestina, mulai melakukan perjalanan menuju Arab Saudi melalui perlintasan Karama pada Senin (11/5/2026). Keberangkatan ini menandai dimulainya rangkaian ibadah haji tahun ini bagi ribuan warga di wilayah tersebut di tengah situasi konflik yang masih berlangsung.

Sebanyak 2.230 jemaah tercatat masuk dalam rombongan perdana yang tiba di Jericho sejak Senin pagi untuk menyelesaikan prosedur perjalanan. Berdasarkan data resmi yang dilansir dari Cahaya, total terdapat sekitar 6.600 warga Palestina dari Tepi Barat yang dijadwalkan menunaikan ibadah haji pada musim ini.

Direktur Kepolisian di perlintasan Karama, Waleed Ghannam, menjelaskan bahwa alur keberangkatan telah diatur secara bertahap guna memastikan kelancaran arus jemaah. Setelah kelompok pertama, sebanyak 1.730 jemaah lainnya dipulangkan pada Selasa untuk melanjutkan perjalanan ke tempat-suci di Arab Saudi.

Ghannam mengonfirmasi bahwa mayoritas rombongan dijadwalkan berangkat pada Senin dan Selasa pekan ini. Proses pengiriman jemaah ini direncanakan terus berlangsung hingga 20 Mei mendatang dengan pembatasan jumlah keberangkatan maksimal 500 orang per hari.

Perdana Menteri Palestina, Mohammed Mustafa, secara langsung meninjau kesiapan pengaturan akomodasi dan transportasi bagi para jemaah. Dalam kunjungan tersebut, Mustafa memastikan bahwa langkah-langkah teknis telah disiapkan untuk mempermudah akses perjalanan warga menuju tanah suci.

Kondisi kontras dialami warga Palestina di Jalur Gaza yang kembali gagal menunaikan ibadah haji untuk tahun ketiga berturut-turut. Blokade total dan penutupan perlintasan oleh Israel menjadi penghambat utama bagi penduduk Gaza untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut.

Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Palestina mengambil kebijakan luar biasa dengan mengalihkan sisa kuota haji milik warga Gaza ke wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Keputusan ini diambil karena tenggat waktu penerbitan visa haji yang ditetapkan pada 20 Maret 2026 tidak memungkinkan bagi warga Gaza akibat pembatasan akses.

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk dengan kelangkaan kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan sejak penutupan perlintasan Rafah secara ketat. Sejak Februari 2026, perlintasan tersebut hanya dibuka secara terbatas bagi pasien medis, sehingga menutup kesempatan bagi calon jemaah haji dari wilayah blokade tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi