Insiden maut melibatkan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, mengakibatkan 16 orang meninggal dunia pada Rabu (6/5/2026). Tragedi ini memicu desakan kuat bagi pemerintah untuk mengevaluasi menyeluruh sistem keselamatan transportasi angkutan penumpang dan logistik lintas provinsi.
Kecelakaan besar ini terjadi di tengah sorotan terhadap kelayakan operasional kendaraan berat dan pengawasan transportasi darat, sebagaimana dilansir dari Otomotif. Kejadian tersebut menambah panjang daftar kecelakaan fatal yang melibatkan operator bus serupa dalam setahun terakhir.
Anggota Komisi V DPR RI, Abdul Hadi, memandang bahwa peristiwa di Muratara merupakan bagian dari pola kecelakaan berulang yang memerlukan perbaikan signifikan pada sistem pengawasan. Ia memberikan penegasan bahwa masalah ini menyentuh aspek kelaikan kendaraan hingga kedisiplinan jam kerja para pengemudi.
"Ini musibah yang sangat memprihatinkan. Belasungkawa kami sampaikan kepada keluarga korban. Namun di saat yang sama, ini juga menjadi pengingat keras bahwa keselamatan transportasi kita masih menyisakan banyak persoalan," ujar Abdul Hadi, Anggota Komisi V DPR RI.
Legislator tersebut mendesak agar investigasi yang dilakukan tidak hanya terpaku pada aspek teknis di tempat kejadian perkara. Menurutnya, rantai pengawasan secara menyeluruh harus menjadi sasaran pemeriksaan guna mengidentifikasi kesalahan sistemik.
"Kalau pola kejadiannya berulang, berarti ada yang salah di sistemnya. Ini tidak bisa terus dianggap sebagai kejadian insidental. Harus ada pembenahan serius," tegas Abdul Hadi, Anggota Komisi V DPR RI.
Ia juga mengingatkan pemerintah untuk memastikan hak-hak seluruh korban terpenuhi, termasuk pemberian santunan serta pendampingan bagi keluarga yang ditinggalkan. Prioritas utama saat ini adalah mencegah agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
"Penanganan korban harus menjadi prioritas, tapi yang lebih penting adalah memastikan kejadian seperti ini tidak terus berulang," kata Abdul Hadi, Anggota Komisi V DPR RI.
Sementara itu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyoroti tingginya angka fatalitas kecelakaan jalan raya di Indonesia yang dinilainya belum mendapatkan perhatian proporsional dari publik maupun pemerintah. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, rata-rata korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas mencapai lebih dari 70 orang setiap hari.
"Pemerintah masih abai terhadap keselamatan transportasi jalan," ujar Djoko Setijowarno, Pengamat Transportasi.
Djoko menekankan bahwa kecelakaan dengan pola yang sama akan terus menghantui jika tidak ada penguatan sistem keselamatan yang ketat. Catatan menunjukkan bus ALS sebelumnya juga terlibat dalam kecelakaan besar di Padang Panjang pada 6 Mei 2025.