Kecelakaan Beruntun KRL dan KA Argo Bromo Anggrek Tewaskan 14 Orang

Kecelakaan Beruntun KRL dan KA Argo Bromo Anggrek Tewaskan 14 Orang

Kecelakaan beruntun melibatkan satu taksi listrik, dua rangkaian KRL, dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam mengakibatkan 14 penumpang meninggal dunia. Insiden maut ini memicu imbauan resmi dari pemerintah terkait penyebaran informasi di ruang digital.

Data korban jiwa tersebut dikonfirmasi hingga Selasa (28/4/2026) pagi, di mana seluruh jenazah telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati. Dilansir dari Teknologi, selain korban meninggal, tercatat sebanyak 84 orang mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan terdekat.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meminta masyarakat untuk menunjukkan empati dengan tidak menyebarkan informasi palsu mengenai musibah tersebut. Penegasan ini disampaikan guna menjaga situasi tetap kondusif di tengah duka keluarga korban.

"Jadi tentu kami menghimbau betul tidak ada yang memanfaatkan peristiwa musibah seperti ini, pertama apalagi untuk menyebarkan hoaks atau berita tidak benar," kata Meutya di Kantor Komdigi pada Selasa (28/4/2026).

Meutya juga menyoroti dampak psikologis yang muncul akibat penyebaran visual kecelakaan secara masif di media sosial. Ia menilai penghormatan terhadap privasi korban jauh lebih penting daripada membagikan konten secara berlebihan.

"Tapi pada semangatnya, kami ingin masyarakatnya juga untuk tidak melakukan itu [penyebaran hoaks]," katanya.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan kronologi insiden bermula saat KRL relasi Bekasi–Cikarang menabrak mobil di perlintasan sebidang JPL 85. Kondisi tersebut membuat perjalanan KRL dialihkan menjadi perjalanan luar biasa (PLB) berkode 5181 dan menghentikan rangkaian KRL lain berkode PLB 5568 di peron stasiun.

"Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menyebutkan bahwa gangguan pada sistem perkeretaapian diduga kuat berawal dari tabrakan taksi listrik tersebut. Kereta jarak jauh yang terlibat diketahui melaju dengan kecepatan tinggi sebelum benturan terjadi.

"Ini kami curigai membuat sistem perkeretaapian di Stasiun Bekasi Timur terganggu," katanya.

Taksi tersebut menabrak rangkaian KRL baru asal China, sementara KRL buatan Jepang yang sedang berhenti dihantam oleh KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang. Meskipun dampak pada KRL sangat fatal, sebanyak 240 penumpang di dalam KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat seluruhnya. Investigasi penyebab pasti gangguan sistem kini ditangani oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Artikel terkait

Rekomendasi