Warga di sekitar Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta Barat, telah menaruh kecurigaan terhadap aktivitas ratusan warga negara asing (WNA) sebelum polisi membongkar markas judi daring jaringan internasional pada Sabtu (9/5/2026). Kecurigaan tersebut didasari oleh pola interaksi, cara berpakaian, hingga kebiasaan para pekerja asing tersebut selama beberapa bulan terakhir.
Aparat kepolisian menangkap total 321 orang dalam operasi tersebut, yang terdiri dari 320 WNA dan satu warga negara Indonesia (WNI). Dilansir dari Megapolitan, para pelaku diketahui mengoperasikan 57 situs web judi daring dari lokasi perkantoran tersebut.
Seorang warga setempat bernama Ananda mengungkapkan bahwa keberadaan orang asing dengan ciri fisik serupa sering terlihat di sekitar gedung dalam beberapa bulan terakhir. Mereka kerap berkomunikasi menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh masyarakat sekitar, terutama saat berbelanja di minimarket terdekat.
"Biasanya suka banyak orang asing kayak Vietnam gitu di sini. Aku dari awal sudah curiga sih. Tapi baru tahu kalau mereka bikin tempat judol di sini. Mana enggak bisa bahasa Inggris," kata Ananda ditemui Kompas.com di sekitar gedung perkantoran tersebut, Senin (11/1/2026).
Petugas keamanan setempat bernama Sulaiman juga mengonfirmasi adanya kendala komunikasi dengan para penghuni gedung tersebut. Menurutnya, kelompok WNA itu sangat jarang berinteraksi dengan warga lokal dan lebih sering berbicara dengan bahasa asing di antara sesama mereka.
"Aneh bahasanya (asing). Saya sudah mencirikan lah, cuma ya enggak kelihatan gara-gara (kerjanya) online. Cuma ya curiga saja," kata Sulaiman.
Indra yang bekerja sebagai juru parkir di dekat lokasi juga sempat berinteraksi dengan bantuan aplikasi penerjemah. Ia mencurigai pesanan makanan dalam jumlah besar melalui ojek daring yang selalu menggunakan titik antar di restoran tempatnya bekerja, bukan langsung ke gedung kantor.
"Itu sebelumnya kan saya curiga begini, ada ojol, berapa kali ini, kok pakai inisial Yung (yang memesan makanan). Enggak ada nama itu di dalam (restoran). Dia pesan makanan sampai Rp 1,2 juta, Rp 1,5 juta," ungkap Indra.
Indra pernah menegur salah satu orang yang mengambil pesanan tersebut setelah mengetahui mereka sengaja menyamarkan lokasi pengantaran untuk menghindari perhatian. Ia menduga aktivitas tertutup di gedung tersebut berkaitan dengan tindak pidana karena aksesnya yang kini terhalang proyek pembangunan.
"Dua kali saya tangkep itu loh. Terus saya translate kan, ‘Kamu sekali lagi pakai alamat sini, saya tangkep, saya laporin,’ tapi dia kabur,“ tutur Indra.
Kecurigaan semakin menguat ketika Indra memperhatikan latar belakang para pekerja tersebut. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari aktivitas perkantoran yang sangat tertutup tersebut.
"Iya, saya pikir gini loh. Orang luar itu antara dua nih, antara pembuatan narkoba dengan judi," kata Indra.
Selain pola makan, cara berpakaian para pekerja asing ini juga dianggap tidak lazim untuk lingkungan perkantoran. Sulaiman menyebut bahwa para pekerja tersebut sering terlihat mengenakan celana pendek saat berada di area kantor, berbeda dengan standar pakaian formal pekerja kantoran pada umumnya.
"Kayak orang paket, kami kan kenal sama orang-orangnya, saling ngobrol saja. Katanya ada yang kayak WNA pakai celana pendek, sedangkan biasanya orang kantoran kan pasti celana panjang," terang Sulaiman.
Berdasarkan data Bareskrim Polri, mayoritas WNA yang diamankan berasal dari Vietnam sebanyak 228 orang, diikuti China 57 orang, Myanmar 13 orang, Laos 11 orang, Thailand 5 orang, serta Malaysia dan Kamboja masing-masing 3 orang. Polisi telah menetapkan 275 orang sebagai tersangka atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.