Umat Beriman Mendapat Keistimewaan Air Telaga Rasulullah SAW Lebih Putih dari Susu

Umat Beriman Mendapat Keistimewaan Air Telaga Rasulullah SAW Lebih Putih dari Susu

Kemurnian air telaga Rasulullah SAW digambarkan memiliki warna yang lebih putih daripada susu. Fasilitas istimewa ini disediakan khusus bagi kaum mukmin yang taat.

Kitab At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghaya wa Taqrib karya Imam Abu Husain Muslim bin Hajjaj al Qusyairi An Naisaburi terjemahan Abu Ahsan Usman menyebutkan keberadaan wadah minum di sana. Jumlah gelas yang tersedia di tempat tersebut diperkirakan melebihi total bintang di langit.

Kondisi ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Samurah RA, dilansir dari Detikcom, mengenai ucapan Rasulullah SAW.

"Ketahuilah bahwasanya aku adalah orang pertama yang akan tiba di telaga untuk memberi minum kalian. Jarak antara kedua telaga tersebut adalah seperti jarak antara Shan'a dan Ailah sedangkan gelas-gelasnya bagaikan hitungan bintang."

Penjelasan mengenai rupa air telaga yang melebihi putihnya susu juga terdokumentasi dalam riwayat Abdullah bin Amr. Sifat fisik dan keutamaan air tersebut dijelaskan secara rinci melalui sabda Nabi SAW.

"Telagaku sejauh perjalanan sebulan; sisi-sisinya sama, airnya lebih putih dari susu, semerbaknya lebih wangi dari minyak kasturi dan wadahnya laksana bintang-bintang langit. Orang yang minum air di telaga itu tidak akan pernah merasa dahaga selama-lamanya."

Frasa lebih putih dari susu sejatinya merupakan sebuah bentuk metafora dari Rasulullah SAW. Penggambaran tersebut mewakili sebuah kesucian serta kenikmatan tiada tara yang mustahil dijumpai di dunia.

Aspek warna putih pada susu tersebut mengacu pada tingkat kebersihan serta kemurnian yang tinggi. Makna ini mengindikasikan bahwa air di dalam telaga tersebut sangat bening tanpa noda.

Karakteristik rasa yang manis dari telaga ini turut dibahas oleh Buya Yahya dalam sebuah ceramah. Beliau menegaskan bahwa seluruh manusia yang meminum air tersebut akan merasa sangat menyukainya.

"Jangan berkata setelah itu, aduh gimana saya nggak suka manis nih. Di sana jadi suka, maksudnya apa ini gambaran bahasanya? Itu telaga sangat disenangi, yang meminumnya semua senang biarpun di dunia nggak suka manis," kata Buya Yahya melalui tayangan di kanal YouTube Al Bahjah TV.

Ukuran Terbesar di Antara Milik Para Nabi

Buku Syarah Riyadhus Shalihin Imam Nawawi oleh Syaikh Muhammad Al Utsaimin terjemahan Munirul Abidin memuat informasi dimensi telaga ini. Tempat minum kepunyaan Nabi Muhammad SAW memiliki ukuran yang paling masif dibandingkan milik utusan Allah lainnya.

Setiap nabi memang dibekali telaga tersendiri sebagai tempat bernaung umat mereka masing-masing. Kendati demikian, tidak ada satu pun yang menandingi luasnya fasilitas milik Rasulullah SAW.

Faktor utama besarnya ukuran tersebut berkaitan erat dengan jumlah pengikut Nabi Muhammad SAW. Kelak, umat beliau diproyeksikan mendominasi hingga sepertiga dari total seluruh penduduk surga.

Perbedaan Pandangan Mengenai Posisi Telaga

Lokasi geografis dari telaga mulia ini memicu perbedaan analisis di kalangan para ulama. Buku Al Madkhal ila Diarasah Al Akidah Al Islamiyyah karya Sulaiman Abdullah Al Asyqar terjemahan Muhammad Misbah mencantumkan satu teori.

Sebagian pendapat meyakini posisi telaga tersebut berada tepat sebelum area penyeberangan di atas Shirath. Jalur Shirath sendiri merupakan titian yang membentang di atas Neraka menuju Surga.

Pandangan lain dikemukakan oleh Ibnu Hajar yang menyoroti dasar pemikiran dari mazhab Al Bukhari. Menurut perspektif tersebut, letak telaga Rasulullah SAW justru berada pada titik setelah manusia melewati Shirath.

Artikel terkait

Rekomendasi