Kejagung Temukan Markup Pengadaan Motor Listrik Badan Gizi Nasional

Kejagung Temukan Markup Pengadaan Motor Listrik Badan Gizi Nasional

Kejaksaan Agung mengungkap dugaan pembengkakan anggaran oleh mantan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana bersama pihak lain dalam pengadaan puluhan ribu unit motor listrik untuk SPPG pada Rabu (3/6/2026).

Pengadaan kendaraan ramah lingkungan tersebut dimasukkan oleh pihak Badan Gizi Nasional padahal dinilai tidak dibutuhkan untuk mendukung operasional pelaksanaan program makan bergizi gratis, sebagaimana dilansir dari Detik Oto.

Pihak kejaksaan mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian pada proses penyusunan kerangka acuan kerja pengadaan barang dan jasa yang tidak berpijak pada kebutuhan riil di lapangan.

"Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan total pengadaan sekitar Rp 1 triliun. Pengadaan 32 ribu pasang sepatu tidak sesuai ketentuan dan adanya markup," kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, di Kejagung, Rabu (3/6/2026).

Syarief juga menambahkan informasi mengenai dampak dari ketidaksesuaian penyusunan rencana kerja pengadaan barang di tubuh lembaga penanggung jawab program pangan tersebut.

"Dalam penyusunan KAK (kerangka acuan kerja) pengadaan barang dan jasa pada BGN tidak disusun sesuai kebutuhan riil di lapangan dan adanya markup harga pengadaan sehingga terjadi kerugian yang tidak mendukung operasional pelaksanaan MBG," ucap Syarief.

Di sisi lain, publik sempat menyoroti bentuk fisik dari kendaraan roda dua bertenaga listrik tersebut karena dinilai sangat menyerupai produk otomotif reguler asal negara China.

"Motor ini di Eropa ada merek lain, sejenis tapi dengan merek yang berbeda. Kalau di Eropa namanya Tinbot. Di Eropa dan Kanada, karena itu satu jenis," kata Dadan ketika masih menjabat sebagai Kepala BGN, April lalu.

Fenomena penamaan ulang produk tanpa merek dari luar negeri ini ditanggapi oleh perwakilan komunitas pengguna kendaraan ramah lingkungan di dalam negeri.

"Praktik umum," kata Hendro kepada detikOto beberapa waktu lalu saat ditanya apakah beli kendaraan "white label" dari China dan rebadge sudah biasa di industri kendaraan listrik.

Hendro menilai skema rebranding tersebut sangat lumrah dalam peta industri global, meskipun ada beberapa pabrikan yang sudah merintis basis produksi mandiri di Indonesia.

"Justru lebih mudah menyebutkan yang murni rancang bangun dari lokal Indonesia, seperti GESITS, MAKA dan QUEST," sambung Hendro.

Artikel terkait

Rekomendasi