Aktivis kemanusiaan kapal Global Sumud Flotilla yang dideportasi menuduh pasukan keamanan Israel melakukan penyiksaan fisik, pemukulan berat, hingga kekerasan seksual selama masa penahanan di fasilitas militer. Penangkapan bersenjata di perairan internasional Mediterania Timur tersebut memicu kecaman keras dari berbagai pemerintah asing termasuk Indonesia.
Dilansir dari CNN dan BBC, armada yang membawa 428 penumpang dari 41 negara beserta logistik pangan dan obat-obatan untuk Jalur Gaza tersebut dicegat oleh komando Israel di dekat Siprus awal pekan ini. Setelah ditahan di pelabuhan Ashdod, sebanyak 422 relawan dideportasi melalui Turki dan Italia pada Kamis, 21 Mei 2026, sementara sembilan warga negara Indonesia di antaranya dipastikan telah aman berada di Istanbul.
Kondisi para tahanan menuai perhatian internasional setelah organisasi hak asasi manusia Adalah mendokumentasikan luka-luka parah, patah tulang, serta penggunaan alat kejut listrik oleh sipir. Penyelenggara flotilla secara resmi melaporkan adanya minimal 15 kasus pelecehan seksual berat termasuk pemerkosaan terhadap para relawan sipil tersebut.
Kekerasan spesifik dialami oleh sutradara film asal Australia, Juliet Lamont, yang mengaku diserang secara seksual di dalam kontainer kapal penjara milik militer Israel.
"You know they’ve broken our bones, but they haven’t broken our soul," ujar Juliet Lamont, Aktivis Australia.
Kekerasan serupa juga dialami oleh Zack Schofield, warga negara Australia lainnya, yang harus menjalani perawatan medis di rumah sakit Istanbul akibat metode interogasi yang ekstrem.
"I myself was zip-tied in a torture position with my hands behind my back, for 40 minutes until I almost vomited from the pain. Then I had my head slammed into the table during the immigration process, constant knees to the chest, face, any kind of way they could there were pliers in my ears pulling them back," kata Zack Schofield, Relawan Australia.
Pihak berwenang Israel langsung membantah laporan sistematik tersebut dan mengklaim seluruh prosedur penanganan tahanan telah berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku.
"The allegations raised are false and entirely without factual basis," sebut Juru Bicara, Israel Prison Service (IPS).
Lembaga tersebut menegaskan bahwa setiap keluhan resmi mengenai pelanggaran hak dasar warga binaan akan diperiksa oleh otoritas kompeten.
"All prisoners and detainees are held in accordance with the law, with full regard for their basic rights and under the supervision of professional and trained prison staff," tambah Juru Bicara, Israel Prison Service (IPS).
Pernyataan itu didukung dengan penegasan mengenai ketersediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi para tahanan.
"Medical care is provided according to professional medical judgment and in accordance with ministry of health guidelines," lanjut Juru Bicara, Israel Prison Service (IPS).
Kendati demikian, Koordinator Advokasi Internasional Adalah, Miriam Azem, tetap mempertahankan keabsahan kesaksian para korban yang berhasil dihimpun oleh tim hukumnya.
"In the past 10 years of Adalah representing activists on flotillas, this is by far the most severe violence and assaults that we’ve encountered," tutur Miriam Azem, Koordinator Adalah.
Kecaman global semakin meluas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang mengejek para aktivis dalam kondisi terikat di media sosial X.
Aktivis Prancis, Meriem Hadjal, setibanya di Paris membeberkan bentuk pelecehan fisik dan seksual yang diterimanya dari petugas keamanan.
"I was subjected to sexual violence and groping," ungkap Meriem Hadjal, Aktivis Prancis.
Dirinya mengaku mengalami trauma mendalam akibat pemukulan dan penjambakan rambut yang berlangsung selama berjam-jam di dalam sel penjara.
"I was hit, slapped, touched, kneed in the ribs, my hair was pulled. I was traumatised for hours," jelas Meriem Hadjal, Aktivis Prancis.
Kondisi mengerikan di kamp penahanan darurat berbahan kontainer besi itu juga disaksikan langsung oleh jurnalis Italia yang ikut serta dalam pelayaran kemanusiaan.
"We've been beaten, tortured, systematically dehumanised, and... we have just had a little taste of what the Palestinians go through every day," ucap Richard Johan Anderson, Aktivis Inggris.
Dari pihak Pemerintah Indonesia, Menteri Luar Negeri Sugiono mengonfirmasi sembilan relawan domestik telah berhasil dikawal keluar dari Israel dan tiba di Istanbul pada Kamis untuk proses pemulangan.
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengapresiasi gerak cepat Kementerian Luar Negeri dan mendesak Indonesia memanfaatkan presidensi di Dewan HAM PBB guna menggalang sanksi internasional terhadap Israel.
"Despite having no diplomatic relations with Israel, the Foreign Ministry managed to build effective coordination with partner countries such as Türkiye, Egypt, and Jordan," puji Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI.
Hidayat menegaskan langkah ini merupakan wujud nyata amanat konstitusi dalam memberikan perlindungan total terhadap warga negara Indonesia di luar negeri.
"This development will be more meaningful if Indonesia works with other countries to take legal actions, including imposing sanctions on Israel for offending human rights and violating international law," pungkas Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI.