Kawasan objek wisata di Kecamatan Kledung mendadak gempar setelah petugas menemukan empat orang dalam kondisi tidak bernyawa di dalam tenda yang tertutup rapat. Korban yang meninggal dunia tersebut merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak.
Tragedi maut ini langsung menyita perhatian publik sekaligus memicu kembali diskusi penting mengenai standar keamanan dalam aktivitas camping. Seperti diberitakan oleh Medcom, aparat kepolisian segera bergerak cepat untuk menyelidiki kepastian penyebab peristiwa tersebut.
Tim Identifikasi Polres Temanggung bersama Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Tengah langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan autopsi terhadap jasad para korban. Petugas juga mengamankan sampel makanan yang dibawa oleh korban untuk uji klinis.
"Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum berani mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan, begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng," ungkapnya seperti dilansir dari Metrotvnews.com.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Temanggung, I Komang Mahendra Deputra menegaskan, posisi kompor gas dan tungku briket ditemukan tepat di depan pintu masuk. Saat pintu dan ventilasi ditutup rapat, gas CO yang tidak berbau dan tidak berwarna diduga memenuhi ruangan tenda tanpa disadari oleh para korban yang sedang tertidur.
Aparat kepolisian juga memastikan tidak menemukan adanya bekas muntahan ataupun tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
Aktivitas memasak di dalam tenda merupakan hal yang sangat berbahaya dan harus dihindari. Saat menyalakan kompor portabel, lampu petromaks, atau alat pemanas di dalam tenda, peralatan tersebut membutuhkan oksigen untuk proses pembakaran.
Pasokan oksigen akan menipis dengan cepat di dalam tenda yang berada dalam kondisi tertutup rapat. Situasi ini memicu terjadinya pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan gas Karbon Monoksida (CO).
Gas CO tidak memiliki bau, rasa, ataupun warna sehingga seseorang yang menghirupnya tidak akan sadar bahwa mereka sedang keracunan. Gas CO mengikat hemoglobin dalam darah jauh lebih kuat daripada oksigen.
Dampaknya, tubuh akan kekurangan oksigen secara drastis yang menyebabkan korban lemas, mengantuk, tidak sadar diri, hingga meninggal dunia saat tidur. Proses pembakaran itu sendiri terus menghabiskan oksigen yang ada di dalam tenda yang sempit.
Pada saat yang sama, kadar karbon dioksida dari hasil pembakaran dan napas manusia terus meningkat. Seseorang bisa meninggal dunia akibat mati lemas atau asphyxiation karena kehabisan oksigen.