Sejumlah aparatur sipil negara (ASN) berstatus ibu rumah tangga mengeluhkan penerapan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) yang justru memperpanjang durasi kerja. Kondisi ini membuat batasan antara tanggung jawab profesional dan urusan personal menjadi semakin kabur bagi para pegawai tersebut.
Rahmi, seorang ASN di Pemerintah Provinsi Jawa Timur, mengungkapkan bahwa pekerjaan kantor sering kali harus ia tuntaskan hingga larut malam meskipun berstatus bekerja dari rumah. Laporan mengenai tantangan kerja jarak jauh ini sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
"Kadang malam masih melanjutkan pekerjaan kalau memang belum selesai," ujarnya Rahmi, ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Ibu dengan dua anak usia sekolah dasar ini tetap harus menjalani rutinitas padat seperti rapat daring dan koordinasi intensif dengan pimpinan. Rahmi merasakan adanya perubahan pola komunikasi yang jauh lebih menuntut dibandingkan saat dirinya bekerja secara fisik di kantor.
"Kalau WFH, pimpinan jadi lebih sering menelepon atau koordinasi karena tidak bertemu langsung di kantor," katanya Rahmi, ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Peningkatan intensitas komunikasi ini memaksa pegawai untuk selalu dalam posisi siap sedia merespons instruksi atasan kapan saja. Rahmi menyebutkan bahwa durasi bekerja menjadi tidak terkontrol akibat hilangnya sekat waktu yang tegas.
"Kalau di kantor kan jam 4 sudah pulang. Kalau di rumah kadang tidak terasa ternyata sudah lewat jam kerja," ujarnya Rahmi, ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Tantangan serupa juga dihadapi oleh Arisha, seorang ASN di kementerian pusat yang memiliki dua anak balita. Fokus utamanya selama menjalani WFH adalah kemampuan mengelola tugas kantor secara bersamaan dengan pengasuhan anak di rumah.
"Zoom sambil jaga anak main, nyuapin anak, upload pekerjaan sambil tunggu masakan matang," ujar Arisha, ASN kementerian pusat.
Arisha menegaskan bahwa bekerja dari rumah tidak secara otomatis meringankan beban kerja harian. Menurutnya, perpaduan peran domestik dan profesional dalam satu waktu justru menguras konsentrasi serta stabilitas emosional.
"Dibilang lebih ringan sih tidak juga, karena harus lebih multitasking antara pekerjaan domestik dan pekerjaan kantor, tapi itulah hebatnay wanita semuanya tetap bisa selesai," katanya Arisha, ASN kementerian pusat.
Selain beban multitasking, Arisha juga menyoroti tekanan mental untuk merespons pesan singkat terkait pekerjaan secara cepat guna menghindari panggilan telepon yang berulang kali dari kantor.
"Iya banget. Kalau tidak cepat respons chat, nanti telepon bisa berkali-kali," ujarnya Arisha, ASN kementerian pusat.