Kementerian Agama menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Zulhijah 1447 Hijriah sekaligus Hari Raya Iduladha pada Minggu, 17 Mei 2026. Penyelenggaraan forum musyawarah resmi pemerintah ini diprediksi akan menghasilkan ketetapan hari raya yang seragam dengan pihak Muhammadiyah.
Keputusan resmi mengenai penentuan tanggal tersebut akan diambil setelah pemerintah menggabungkan metode hisab astronomis dan konfirmasi faktual lapangan. Berdasarkan data pemantauan awal, posisi hilal di wilayah Indonesia dan sebagian besar dunia dilaporkan sudah cukup tinggi saat waktu Maghrib.
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin memprediksi Hari Raya Iduladha 1447 H akan berlangsung serentak pada 27 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Nasional.
"InsyaAllah Idul Adha 1447 H seragam," kata Thomas, Rabu (13/5/2026).
Penetapan seragam ini dimungkinkan karena posisi bulan baru diproyeksikan memenuhi kriteria global dan regional setelah melewati tanggal pemantauan awal. Menurut perhitungan astronomis, hilal di kawasan Asia Tenggara pada 16 Mei 2026 belum mencapai batas minimal tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat sesuai kriteria MABIMS.
"Maka 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari berikutnya yaitu 18 Mei 2026 dan Idul Adha jatuh pada 27 Mei 2026," ujar Thomas.
Kondisi serupa juga terlihat pada sistem penanggalan yang berlaku di wilayah lain, termasuk di benua Amerika yang mengacu pada kriteria Turkiye. Meskipun terjadi perbedaan waktu konjungsi di beberapa belahan dunia, hasil akhir penanggalan tetap menunjukkan kesamaan indikasi waktu.
"Maka menurut kriteria Turkiye, 1 Zulhijah pun akan jatuh pada hari berikutnya, yaitu 18 Mei 2026. Dan Idul Adha juga akan seragam jatuh pada 27 Mei 2026," jelasnya.
Evaluasi terhadap posisi hilal mutakhir menunjukkan potensi keselarasan yang tinggi antar berbagai metode perhitungan yang digunakan ormas Islam dan pemerintah. Kesamaan ini mencakup kriteria MABIMS, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah, hingga penanggalan Ummul Qura Arab Saudi.
"Maka KHGT Muhammadiyah sama dengan Ummul Qura Arab Saudi sama dengan MABIMS, awal Zulhijah 1447 H 18 Mei 2026 dan Idul Adha 27 Mei 2026," kata Thomas.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa sidang isbat akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, kantor Kementerian Agama, Jakarta.
"Sidang isbat ini merupakan bagian dari mekanisme pemerintah dalam menetapkan awal bulan Hijriah, termasuk menentukan Hari Raya Idul Adha," ujar Abu dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Mekanisme ini sengaja melibatkan ormas Islam, pakar falak, serta astronom agar keputusan yang diambil memiliki akurasi tinggi dan disepakati bersama. Integrasi antara perhitungan matematis dan verifikasi visual menjadi landasan utama sidang.
"Hisab memberikan gambaran posisi hilal, sementara rukyat menjadi konfirmasi faktual melalui pengamatan di lapangan," jelasnya.
Di sisi lain, organisasi keagamaan Muhammadiyah sudah mengumumkan maklumat resmi mengenai jatuhnya hari besar keagamaan tersebut melalui sistem internal mereka. Muhammadiyah menetapkan Iduladha 10 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Wage, 27 Mei 2026 Masehi berdasarkan Parameter Kalender Global.