Kemenag Gelar Sidang Isbat Penetapan Iduladha 1447 Hijriah

Kemenag Gelar Sidang Isbat Penetapan Iduladha 1447 Hijriah

Kementerian Agama menggelar sidang isbat secara tertutup untuk menetapkan 1 Zulhijah 1447 Hijriah dan Hari Raya Iduladha 1447 H di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta Pusat, Minggu (17/5/2026) petang. Pertemuan berkala ini menyatukan berbagai unsur masyarakat, ulama, dan ahli astronomi untuk menentukan tanggal penting dalam kalender Islam.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa pemantauan hilal dilaksanakan di 88 titik strategis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Langkah masif ini diambil guna memastikan validitas data sebelum dibawa ke meja sidang penetapan.

"Sidang isbat menjadi forum bersama untuk memadukan hasil hisab dan rukyatulhilal guna menetapkan awal Zulhijah 1447 H secara akurat dan dapat diterima seluruh umat Islam Indonesia," kata Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, Minggu.

Arsad menambahkan, sejumlah perwakilan penting mulai dari duta besar negara sahabat, DPR RI, perwakilan ormas Islam, hingga pakar falak turut diundang dalam sidang ini. Berdasarkan perhitungan komputer, seluruh sistem hisab menunjukkan ijtimak menjelang bulan Zulhijah terjadi pada hari Minggu sekitar pukul 03.00 WIB.

"Pemantauan hilal dilakukan secara luas di berbagai wilayah Indonesia agar hasil rukyat yang diperoleh semakin akurat dan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam sidang isbat," kata dia, Minggu (17/5/2026).

Berdasarkan data teknis, posisi ketinggian hilal di tanah air terpantau berada pada rentang 3,29 hingga 6,95 derajat dengan sudut elongasi mencapai 8,91 hingga 10,60 derajat. Parameter tersebut telah melewati standar minimal visibilitas hilal baru yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

"Pada hari Hijriah ini tingginya di seluruh Indonesia antara 3,29 sampai 6,95 dan elongasinya antara 8,91 sampai 10,60 derajat. Di seluruh wilayah NKRI posisi hilal telah memenuhi kriteria MABIMS atau visibilitas hilal," kata Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya, Minggu.

Aturan MABIMS terbaru yang diadopsi Indonesia sejak tahun 2022 menetapkan batasan yang lebih ketat dibandingkan kriteria lama tahun 1992. Saat ini, hilal dianggap terlihat secara ilmiah jika tingginya minimal 3 derajat dengan jarak sudut dari matahari sebesar 6,4 derajat.

"Ini kriteria yang kita kenali. Jadi pada saat matahari terbenam, hilal sudah memenuhi kriteria Mabim jika ketinggian hilalnya sudah di atas 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat," katanya.

Melalui proyeksi peta astronomi, tim ahli memaparkan bahwa seluruh wilayah kedaulatan Indonesia menunjukkan indikator visual yang positif untuk kemunculan bulan sabit baru. Keadaan ini memberikan indikasi kuat mengenai awal bulan Kamariah yang seragam.

"Seluruh wilayah Indonesia tampak warnanya hijau," katanya.

Secara khusus, Cecep menjabarkan perbandingan bentangan jarak elongasi dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia. Jarak sudut tersebut terbukti berada jauh di atas batas aman pemantauan kasat mata.

"Di Merauke 8,91 derajat. Di Sabang 10,62 derajat. Padahal minimal saja 6,4 sudah jauh di atas kriteria MABIMS," ujar Cecep.

Kondisi geografis Indonesia secara keseluruhan dilaporkan telah memenuhi standar kelayakan observasi dalam paparan seminar pra-sidang tersebut. Melalui hasil perhitungan matematis atau hisab, 1 Zulhijah 1447 H diproyeksikan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026, sehingga Iduladha bertepatan pada Rabu, 27 Mei 2026.

"Seluruh wilayah Indonesia warna putih dan hijau sudah memiliki kriteria MABIMS awal bulan Kamariah," kata dia.

Meskipun data astronomi telah memberikan gambaran yang jelas, pengumuman resmi mengenai kepastian tanggal Hari Raya Kurban tetap menunggu keputusan final sidang isbat. Pemerintah menjadwalkan pembacaan keputusan tersebut melalui siaran konferensi pers langsung setelah sidang tertutup selesai dilaksanakan.

Artikel terkait

Rekomendasi