Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Senin, 4 Mei 2026, untuk meningkatkan kesiapan kerja lulusan di era digital. Kesepakatan ini berlangsung di Auditorium Prof. Abdullah Siddiq sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Studium Generale yang dihadiri sekitar 500 mahasiswa.
Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, dalam kuliah umum tersebut menyoroti tantangan hilangnya sekitar 92 juta pekerjaan pada tahun 2030 berdasarkan laporan global. Namun, ia juga mencatat peluang munculnya 170 juta jenis pekerjaan baru yang memerlukan kompetensi berbeda dari angkatan kerja saat ini.
"Dunia kerja sedang berubah drastis. Pekerjaan akan selalu ada, bahkan terus bertambah. Tapi persoalannya, apakah talenta kita siap untuk mengisinya?" tegas Yassierli.
Menaker menambahkan bahwa pergeseran tren rekrutmen di industri kini lebih mengutamakan pembuktian keterampilan nyata dibandingkan hanya bersandar pada gelar akademik formal.
"Ke depan, yang dilihat bukan lagi sekadar gelar, tetapi apa yang bisa dilakukan. Skill akan menjadi kunci utama," ujarnya.
Yassierli juga memberikan pandangan mengenai peran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tidak akan menggantikan posisi manusia secara total, melainkan mendisrupsi individu yang tidak responsif terhadap teknologi.
"AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan AI yang akan tertinggal," tambahnya.
Terkait kondisi tenaga kerja, Menaker memaparkan bahwa saat ini angkatan kerja Indonesia mencapai 150 juta jiwa dengan 86,9 persen di antaranya berpendidikan maksimal SMA/SMK. Sektor-sektor masa depan seperti teknologi pertanian dan semikonduktor disebut sebagai lapangan kerja potensial.
"Perusahaan saat ini lebih mencari keterampilan dibandingkan sekadar ijazah, sehingga kemampuan praktis menjadi kunci utama. Industri seperti semikonduktor dan teknologi pertanian memiliki potensi besar sebagai lapangan kerja masa depan," ujar Yassierli.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil mengingatkan pentingnya perubahan paradigma berpikir bagi mahasiswa agar tetap relevan dengan tuntutan industri.
"Dunia kerja saat ini sedang mengalami pergeseran paradigma, sehingga mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan ijazah formal, tetapi harus memiliki keterampilan yang relevan. Yang dibutuhkan saat ini adalah growth mindset, yaitu kesiapan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan kebutuhan industri," kata Adityawarman.
Rektor UIKA Bogor, Prof. E. Mujahidin, menegaskan bahwa kemitraan selama lima tahun ini bertujuan meminimalisir kesenjangan keterampilan. Ia juga menyentuh persoalan angka pengangguran di wilayah Kota Bogor yang membutuhkan intervensi data akurat.
"Kita membutuhkan data yang valid agar program pelatihan dan penempatan kerja bisa tepat sasaran," tegasnya.
Mujahidin memastikan bahwa kurikulum dan program pengembangan di universitas akan terus diselaraskan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
"UIKA tidak hanya menyiapkan lulusan yang kuat secara akademik, tetapi juga memastikan mereka siap masuk ke dunia kerja dengan kompetensi yang relevan," ujarnya.
Penandatanganan dokumen dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kemenaker RI, Dr. Cris Kuntadi, bersama Rektor UIKA Bogor, disaksikan oleh jajaran pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor. Berdasarkan data Kemenaker, realisasi investasi triwulan pertama 2026 sebesar Rp498,8 triliun telah menyerap lebih dari 700 ribu tenaga kerja nasional.