Kemendikdasmen Catat Lima Bahasa Daerah di Indonesia Telah Punah

Kemendikdasmen Catat Lima Bahasa Daerah di Indonesia Telah Punah

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sedikitnya lima bahasa daerah di Indonesia telah punah akibat kehilangan seluruh penutur aslinya. Data mengkhawatirkan tersebut disampaikan dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 di Depok pada Senin, 25 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Medcom.

Ancaman kepunahan terbesar terdeteksi berada di wilayah timur Indonesia karena jumlah bahasa daerah yang banyak tidak sebanding dengan kuantitas penutur yang semakin menyusut. Kendati demikian, tren penurunan jumlah penutur ini juga dilaporkan terjadi di wilayah tengah dan wilayah lainnya.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin menegaskan bahwa temuan hilangnya bahasa daerah tersebut didasarkan pada hasil kajian mendalam yang dilakukan pada tahun 2019. Fenomena ini memicu desakan kuat untuk segera melakukan langkah regenerasi penutur bahasa daerah secara masif di seluruh wilayah Indonesia.

"Dari kajian yang dilakukan di tahun 2019, setidaknya sudah ada lima bahasa daerah yang sudah tidak ada lagi penutur aslinya. Penutur aslinya tidak menurunkan kepada penutur-penutur mudanya sehingga tidak ada penerusnya," kata Hafidz Muksin, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

FTBIN 2026 diselenggarakan selama empat hari, mulai tanggal 22 sampai 26 Mei 2026, sebagai puncak program Revitalisasi Bahasa Daerah sekaligus perayaan Hari Pendidikan Nasional. Agenda tahunan ini dihadiri oleh 78 peserta undangan penyeru bahasa daerah, 59 peserta mandiri dari 14 provinsi, serta 150 pendamping.

Festival yang mengusung tema Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa ini turut dihadiri oleh 27 kepala daerah. Para pimpinan daerah tersebut menyatakan komitmen penguatan pelestarian bahasa lokal melalui regulasi, alokasi anggaran, dan kebijakan program kerja.

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad merealisasikan komitmen tersebut melalui rencana pembangunan museum dan monumen bahasa nasional Indonesia di Pulau Penyengat. Proyek pelestarian bernilai lebih dari Rp101 miliar tersebut direncanakan berjalan selama dua tahun ke depan.

"Kami tahun ini selama dua tahun insyaallah membangun museum dan monumen bahasa nasional Indonesia yang nilainya plus minus Rp101 miliar rupiah. Mudah-mudahan 2028 pas 100 tahun Sumpah Pemuda bisa digelar di Pulau Penyengat," kata Ansar Ahmad, Gubernur Kepulauan Riau.

Pulau Penyengat dipilih karena nilai historisnya sebagai tempat Pahlawan Nasional Raja Ali Haji memimpin pemartabatan bahasa Melayu lewat Gurindam 12 pada abad ke-19. Selain infrastruktur fisik, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga telah melatih hampir 300 guru SD dan SMP melalui program training of trainer bersama Badan Bahasa.

Kemendikdasmen menutup rangkaian kegiatan dengan menyerahkan penghargaan kepada sejumlah pegiat bahasa, sastra, dan literasi. Apresiasi tersebut diberikan kepada Rahmah Abasa Rido Harun, Ariani Isnamurti dari Yayasan Hari Puisi, Nur Istiqomah selaku Ketua TBM Saung Manggar, Hari Kusmanto dari Komunitas Tribuno Swasta Harena, serta pelestari perorangan Rustani Simanjuntak.

Artikel terkait

Rekomendasi