Kemendikdasmen Integrasikan PAUD dalam Wajib Belajar 13 Tahun

Kemendikdasmen Integrasikan PAUD dalam Wajib Belajar 13 Tahun

Kebijakan wajib belajar 13 tahun akan mulai mengintegrasikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun ajaran 2026/2027. Struktur kurikulum untuk jenjang ini telah disiapkan guna mematangkan kesiapan belajar anak.

Dilansir dari Medcom, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merancang masa pembelajaran PAUD tersebut untuk jangka waktu satu tahun. Kegiatan di dalamnya bakal terbagi menjadi dua bagian, yakni intrakurikuler dan kokurikuler.

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Non Formal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari arah kebijakan nasional.

"Implementasi intrakurikuler dan kokurikuler di PAUD menjadi fondasi pembentukan 8 Dimensi Profil Lulusan yang diharapkan tercapai pada diri anak selama di satuan PAUD, yang saat ini menjadi arah kebijakan nasional," kata Gogot kepada wartawan Selasa 3 Juni 2026.

Fokus utama dari kegiatan intrakurikuler ini adalah menguatkan kemampuan dasar para peserta didik. Ada beberapa target capaian yang ingin dibentuk melalui program tersebut.

"Capaian pembelajaran meliputi nilai agama dan budi pekerti, jati diri serta dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi dan seni," terang dia.

Metode pembelajaran mendalam atau deep learning juga turut diterapkan dalam kurikulum ini. Langkah tersebut diambil demi menghadirkan pengalaman belajar yang memiliki makna bagi anak-anak.

"Karena tentu penting agar murid mampu menghubungkan konsep ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari," jelas Gogot.

Guna mendukung metode ini, para guru dapat memakai bermacam-macam objek di sekitar lingkungan anak sebagai sumber belajar. Proses edukasi tidak lagi bertumpu penuh pada buku bacaan atau perangkat teknologi ramah anak saja.

“Hal ini bertujuan untuk membangun dasar yang kokoh untuk kesiapan sekolah dan keberhasilan murid di jenjang pendidikan berikutnya,” kata Gogot.

Sementara itu, skema pengajaran bagi Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB) memiliki penekanan yang berbeda. Kemendikdasmen menitikberatkan aktivitas intrakurikuler lewat metode bermain yang bermakna.

Pendekatan bermain tersebut memberikan kebebasan eksplorasi demi menumbuhkan kompetensi dan karakter murid. Kegiatan ini juga memiliki fungsi terapeutik untuk merangsang aspek perkembangan anak yang sempat terhambat.

Untuk bagian kokurikuler, pihak kementerian mendesain program tambahan yang mengacu pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA). Tujuannya adalah mempercepat pencapaian profil lulusan yang ideal.

“Dengan demikian, kebijakan wajib belajar 1 tahun pra-sekolah ini pada dasarnya adalah upaya Pemerintah memastikan seluruh anak memiliki kesiapan belajar yang lebih baik melalui pembangunan fondasi karakter, sosial emosional dan literasi yang lebih kuat dan holistik,” kata Gogot.

Artikel terkait

Rekomendasi