Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia melaporkan sebanyak 138.879 jemaah dan 1.433 petugas telah diberangkatkan ke Arab Saudi pada Rabu (13/5/2026). Hingga saat ini, sebagian besar jemaah asal Indonesia tersebut dilaporkan sudah berada di Mekkah untuk persiapan puncak ibadah haji.
Data operasional menunjukkan pergerakan besar kloter jemaah dari tanah air menuju tanah suci. Dilansir dari Nasional, jumlah jemaah yang telah tiba di Mekkah mencapai angka 105.360 orang yang berasal dari ratusan kelompok terbang.
"Sebanyak 359 kloter dengan 138.879 jemaah telah diberangkatkan menuju Arab Saudi. Hingga saat ini, tercatat sudah 273 kloter dengan 105.360 jemaah dan 1.092 petugas telah tiba di Mekkah," ujar Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff dalam siaran pers.
Pemerintah juga mencatat kedatangan melalui bandara di Jeddah yang diperuntukkan bagi jemaah gelombang kedua. Setidaknya 84 kloter yang membawa 32.009 jemaah dan 337 petugas telah mendarat melalui King Abdulaziz International Airport.
"Sebanyak 6.018 jemaah haji khusus juga telah berada di Arab Saudi dan menjalankan rangkaian ibadah sesuai jadwal masing-masing," ujar Maria.
Memasuki fase kritis menjelang puncak haji, pihak kementerian memberikan instruksi khusus mengenai kondisi fisik jemaah. Maria menekankan pentingnya efisiensi tenaga di tengah cuaca dan kepadatan di Arab Saudi.
"Kami mengimbau jemaah untuk mengutamakan ibadah wajib, memperbanyak istirahat, menjaga pola makan, cukup minum, dan segera melapor jika mengalami kendala layanan," tegas Maria.
Untuk memudahkan koordinasi, Kemenhaj menyediakan kanal komunikasi digital bagi para jemaah dan petugas lapangan melalui platform Kawal Haji. Sistem ini dirancang untuk merespons segala permasalahan yang muncul selama operasional berlangsung.
"Setiap laporan yang masuk dapat dipantau, diteruskan dan ditindaklanjuti lebih cepat sesuai kewenangan petugas di lapangan. Ini adalah bentuk komitmen kami agar setiap suara jemaah dapat segera ditangani," kata Maria.
Seluruh pergerakan jemaah dan logistik saat ini dipantau secara terpusat melalui Command Center Haji 2026. Integrasi data mencakup berbagai sektor layanan mulai dari transportasi hingga konsumsi.
"Pengawasan tidak lagi hanya dilakukan secara manual, tetapi berbasis data dan informasi yang terintegrasi. Tujuannya agar setiap layanan dapat dipantau lebih dekat dan setiap kendala dapat segera direspons," tutur dia.