Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) berhasil melancarkan arus pergerakan jemaah haji di Muzdalifah pada fase puncak Armuzna melalui penerapan skema inovatif murur pada Sabtu (30/5). Dilansir dari Detikcom, strategi melintas tanpa turun dari bus ini sukses mengurai potensi kepadatan ekstrem sejak dini hari.
Langkah baru tersebut terbukti memotong rantai antrean panjang angkutan jemaah secara signifikan. Wilayah Muzdalifah yang biasanya padat hingga siang hari, kini sudah terpantau bersih dari jemaah pada pukul 06.30 Waktu Arab Saudi (WAS) untuk dipindahkan ke Mina.
Sistem ini menyasar sebagian jemaah haji, khususnya kelompok lanjut usia (lansia), risiko tinggi (risti), dan disabilitas. Kepatuhan jemaah terhadap aturan ini menjadi kunci utama keberhasilan evakuasi massal meskipun sempat terjadi dinamika kecil akibat ketidaksabaran antrean.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan penjelasan mengenai kelancaran arus transportasi jemaah dari Muzdalifah menuju Mina tersebut.
"Dari Arafah ke Muzdalifah itu tepat waktu. Dari Muzdalifah yang dulu itu sampai dengan siang belum di-deploy (terantar) atau dipindahkan ke Mina, kemarin itu pagi jam 06.30 sudah clear and clean di Muzdalifah dan sudah tiba di Mina," ujar Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah.
Penerapan sistem ini dinilai membawa perubahan yang sangat radikal dan positif jika dibandingkan dengan penyelenggaraan haji pada musim-musim sebelumnya.
"Namun kemajuannya luar biasa banyak. Di Arafah tepat waktu, jadi kalau yang lalu itu masih ada yang belum berangkat ke Arafah bahkan sampai dengan malam begitu. Kalau ini semua jemaah sudah berangkat di Arafah tepat waktu," jelas Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah.
Setelah pembersihan wilayah Muzdalifah rampung lebih awal, fokus petugas sepenuhnya dialihkan untuk mengawal jemaah di tenda-tenda Mina. Kementerian Haji dan Umrah akan mematangkan manajemen transportasi ini sebagai cetak biru baru untuk operasional tahun-tahun mendatang.