Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dinilai berhasil mewujudkan komitmen dalam menghadirkan layanan haji yang inklusif untuk lansia, disabilitas, dan perempuan pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Keberhasilan pemenuhan kebutuhan jemaah tersebut menuai apresiasi dari berbagai pihak, seperti dilansir dari Nasional.
Penilaian positif ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenhaj RI, Puji Raharjo, saat meninjau sekaligus melepas kepulangan jemaah haji asal Lombok yang tergabung dalam Kloter LOP 6 di King Abdulaziz International Airport pada Minggu (7/6) malam. Keberhasilan program haji ramah lansia ini tercermin dari testimoni langsung para jemaah yang merasakan manfaat nyata dari layanan khusus tersebut.
"Terkait dengan ramah lansia, sudah banyak testimoni dari jemaah. Tadi kita melihat sendiri dua jemaah lansia yang memberikan respons yang cukup baik terhadap pelayanan kita," ujar Puji di Bandara Jeddah, Minggu (7/6/2026).
Selain bagi lansia, peningkatan signifikan layanan juga dirasakan oleh penyandang disabilitas setelah Kementerian Haji dan Umrah RI menggandeng Komisi Nasional Disabilitas (KND) untuk mengawal seluruh tahapan haji dari persiapan hingga kepulangan. Puji menyatakan perhatian khusus memang harus diberikan kepada kaum disabilitas.
"Alhamdulillah, berdasarkan testimoni dari teman-teman disabilitas, tahun ini layanan disabilitas cukup mendapat apresiasi. Kaum disabilitas memang harus mendapatkan perhatian khusus," tambah Puji.
Skema operasional haji sejak awal didesain untuk merespons kebutuhan jemaah perempuan yang mendominasi kuota haji Indonesia, salah satunya dengan merekrut petugas serta pembimbing ibadah perempuan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan musim-musim sebelumnya.
"Musim haji tahun ini adalah rekor terbanyak untuk keterlibatan petugas perempuan. Begitu juga dengan pembimbing ibadah perempuan yang kita perbanyak. Karena jemaah haji Indonesia sebagian besar adalah perempuan, maka petugas perempuan di layanan umum, layanan kesehatan, maupun layanan ibadah terus kita tingkatkan," jelas Puji secara rinci.
Kendati operasional berjalan sukses, Puji memberikan catatan evaluasi mengenai ketersediaan dan rasio toilet perempuan di Mina saat puncak haji yang dinilai belum sesuai dengan harapan. Pihaknya berkomitmen untuk membenahi fasilitas penunjang tersebut bersama pihak masyarik atau otoritas Arab Saudi di masa mendatang.
"Memang catatannya soal perempuan ini tentang ketersediaan toilet di Mina, khususnya yang belum sesuai dengan harapan kita. Tentu ke depan kita berharap layanan di Mina bisa lebih baik lagi. Walaupun kemarin masih ada kekurangan di sana-sini, insya Allah ke depan kita akan berusaha meningkatkannya lagi," pungkas Puji.
Apresiasi terhadap petugas haji juga diutarakan langsung oleh jemaah yang merasakan pengawalan ramah dan sigap sejak dari bandara, pemondokan, hingga di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
"Alhamdulillah pelayanan di Arafah sangat luar biasa. Petugas petugas juga ramah dan sangat membantu. Meski di Mina, toiletnya kurang untuk perempuan. Pada layanan seluruhnya sangat baik dan kami sampaikan terima kasih atas pelayanan haji tahun ini," ungkap Hj. Fitriany Maksum Syafii, salah satu jemaah perempuan asal Lombok.