Pemerintah Indonesia menyediakan jutaan porsi makanan siap santap atau ready to eat (RTE) guna mendukung kebutuhan logistik konsumsi jamaah selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Hidangan praktis ini dirancang khusus dengan ketahanan pangan yang cukup lama, sehingga dapat dibawa pulang ke Tanah Air sebagai oleh-oleh unik.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj RI Jaenal Effendi menyatakan bahwa pihak pemerintah menyiapkan sekitar 3,08 juta porsi makanan siap santap untuk menopang kebutuhan konsumsi jamaah, seperti dilansir dari Cahaya.
Menurut Jaenal, kemasan makanan RTE tersebut sangat rapat dan praktis untuk disimpan di dalam koper maupun tas milik jamaah.
"Ini saking senangnya, kadang para jamaah membawa makanan siap santap saat puncak haji sebagai oleh-oleh pulang ke Indonesia," ujar Jaenal di Makkah, Selasa (19/5/2026).
Jaenal menilai hidangan Armuzna ini menjadi buah tangan yang khas karena sangat lekat dengan pengalaman spiritual jamaah selama menjalani puncak ibadah haji di Tanah Suci.
Dia juga menjamin bahwa kualitas makanan siap saji ini aman dikonsumsi dalam periode yang panjang karena diproduksi sesuai standar keamanan pangan yang ketat.
"Daya tahannya ini 18 bulan. Kemarin juga sudah kita uji lagi di laboratorium dan masih sangat layak untuk dikonsumsi," katanya.
Melalui kepastian masa kedaluwarsa yang panjang tersebut, hidangan ini dipastikan tetap aman dibawa dalam perjalanan pulang menuju Indonesia.
Jaenal menambahkan bahwa perancangan menu RTE ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi jamaah di tengah padatnya jadwal aktivitas puncak haji.
"Ini sudah bisa langsung dibuka dan dimakan. Tidak perlu dipanaskan," ujarnya.
Kemasan dari makanan ini juga berfungsi langsung sebagai wadah logistik, sehingga memudahkan proses konsumsi para jamaah di lapangan.
Petugas haji nantinya dikerahkan untuk memberikan panduan dan edukasi bagi jamaah yang belum terbiasa mengonsumsi model pangan siap santap tersebut.
Cita rasa yang dihadirkan dalam menu makanan ini tetap mempertahankan karakteristik kuliner khas Indonesia agar cocok dengan lidah para jamaah.
Beberapa variasi menu yang disediakan oleh pemerintah meliputi nasi uduk, kari ayam, hingga rendang daging.
Jaenal menegaskan bahwa komoditas makanan siap santap tersebut telah memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan minimal 50 persen bahan baku paket dipasok langsung dari Indonesia.