Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah RI memperkuat sistem perlindungan jamaah selama fase puncak ibadah haji 2026 dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, Mina, Arab Saudi.
Langkah strategis ini, seperti dilansir dari Cahaya, bertujuan untuk merespons cepat kondisi darurat yang mungkin terjadi saat jutaan jamaah menjalankan prosesi lontar jumrah pada Hari Tasyrik.
Tim khusus ini bertugas memberikan pertolongan pertama, membantu proses evakuasi darurat, sekaligus mengurai kepadatan jamaah ketika situasi mulai berisiko di area Jamarat serta jalur perlintasan jamaah.
“Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina,” ujar Maria Assegaff, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI dalam keterangannya di Jakarta.
Penempatan posko MCR dilakukan di sejumlah titik strategis berdasarkan jalur utama pergerakan jamaah serta titik yang berpotensi mengalami kepadatan tinggi saat lontar jumrah berlangsung.
Melalui sistem ini, petugas dapat memantau kondisi lapangan secara langsung untuk merespons kondisi darurat seperti jamaah kelelahan, terpisah dari rombongan, hingga gangguan kesehatan akibat cuaca panas ekstrem.
“Pelindungan jamaah adalah prioritas,” kata Maria Assegaff, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.
Petugas juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti jamaah lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas dengan aktif bergerak di lapangan untuk memastikan bantuan langsung.
Kawasan Jamarat dikenal sangat padat karena jutaan jamaah dari berbagai negara bergerak bersamaan untuk melaksanakan lontar tiga jumrah, yakni Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada Hari Tasyrik.
Buku Manajemen Penyelenggaraan Ibadah Haji karya M. Akhyar Adnan menyebutkan bahwa pengelolaan kerumunan saat lontar jumrah termasuk salah satu operasi manajemen manusia terbesar di dunia.
Kementerian Haji dan Umrah RI mengimbau jamaah agar tidak memaksakan diri, mematuhi jadwal resmi sesuai kloter, serta selalu berjalan secara berkelompok bersama petugas sektor demi menghindari risiko tersesat.
Kondisi fisik juga perlu dijaga mengingat suhu udara di Mina pada siang hari dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, sehingga jamaah diminta menghindari aktivitas luar ruangan pada jam terik.
Buku Fiqh Haji dan Umrah karya Said bin Abdullah Al-Qahthani menjelaskan bahwa menjaga keselamatan jiwa selama ibadah termasuk bagian penting dalam prinsip syariat Islam.
Guna mengantisipasi risiko kelelahan dan heatstroke, pemerintah menetapkan waktu larangan lontar jumrah pada jam-jam tertentu dan menyiagakan sekitar 1.356 petugas Satgas Mina yang bekerja selama 24 jam.
Buku Rahasia Haji dan Umrah karya Imam Al-Ghazali memaparkan bahwa setiap lembaran jumrah menjadi simbol keteguhan iman dan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi guna mempercepat penanganan darurat dalam operasi kemanusiaan dan logistik berskala global ini.