Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan puncak ibadah haji 1447 H/2026 M dimulai pada Senin, 25 Mei 2026, dengan menerapkan skema makanan siap santap (ready to eat) untuk menjaga stamina ratusan ribu jemaah asal Indonesia di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), seperti dilansir dari Detikcom pada Senin (18/5/2026).
Pergerakan masif jutaan jemaah dari Kota Makkah menuju Arafah untuk wukuf memicu kepadatan dan mobilitas tinggi. Langkah penyediaan logistik ini diambil pemerintah demi memastikan kondisi fisik jemaah haji reguler maupun lansia tetap prima menghadapi situasi ekstrem di lapangan.
"Rangkaian puncak ibadah haji di Armuzna ini akan dimulai pada Senin, 25 Mei 2026 saat jemaah mulai bergerak dari Kota Makkah menuju Arafah. Fase ini sangat padat dan kompleks, sehingga seluruh layanan harus dipastikan berjalan cepat, tepat, dan aman," kata Maria Assegaff, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Penyediaan konsumsi selama fase Armuzna mencakup total 15 porsi makanan dengan cita rasa nusantara. Hidangan siap santap ini dipilih karena memiliki keunggulan dalam kecepatan distribusi, higienitas, serta daya tahan yang baik di tengah cuaca panas Arab Saudi.
"Makanan siap santap ini disusun dengan cita rasa Nusantara. Ini sekaligus menjadi pengobat rindu terhadap kampung halaman di tengah pelaksanaan ibadah di Tanah Suci," jelas Maria Assegaff, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Pemerintah juga mendistribusikan 6 porsi konsumsi tambahan untuk mengover fase pra-Armuzna pada 24-25 Mei dan pasca-Armuzna pada 30 Mei. Demi kelancaran pergerakan jemaah, Kemenhaj menargetkan seluruh pasokan makanan tersebut sudah sampai di hotel-hotel jemaah paling lambat Sabtu, 23 Mei 2026.
"Kualitas konsumsi sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik jemaah. Oleh sebab itu, pengawasan dilakukan secara ketat mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga distribusinya nanti," tegas Maria Assegaff, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Mengingat waktu pelaksanaan yang semakin dekat, otoritas haji meminta dengan sangat agar seluruh jemaah Indonesia membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak di luar hotel, terutama pada siang hari, guna menghemat energi menjelang wukuf.
"Haji itu puncaknya di Arafah. Jangan sampai tenaganya habis sebelum waktunya. Kami meminta jemaah jangan memaksakan diri melakukan aktivitas tidak mendesak, terutama di luar hotel pada siang hari," cetus Maria Assegaff, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Bagi kelompok jemaah lanjut usia, disabilitas, dan jemaah berisiko tinggi dengan penyakit komorbid, pendampingan ketat akan dilakukan oleh ketua regu serta petugas medis yang berjaga aktif mulai dari sektor penginapan hingga klinik rujukan.
"Petugas kesehatan terus melakukan pemantauan aktif di hotel, sektor, hingga klinik rujukan. Keberhasilan menjaga kesehatan ini bergantung besar pada kedisiplinan jemaah. Ingat, jaga kesehatan, hemat tenaga, dan jangan sungkan meminta bantuan petugas," pungkas Maria Assegaff, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).