Kementerian Kehutanan berkomitmen mempertahankan kelestarian vegetasi di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang berfungsi vital sebagai sumber air bagi empat kabupaten di Jawa Barat pada Selasa (12/5/2026). Kawasan konservasi seluas 14.841,3 hektare tersebut menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat di Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.
Data dari Balai TNGC menunjukkan keberadaan 97 titik mata air yang tetap mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang sangat murni. Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, pemulihan ekosistem melalui rehabilitasi hutan telah berhasil meningkatkan tutupan vegetasi hingga mendekati angka 90 persen.
Kepala Balai TNGC, Toni Anwar menjelaskan bahwa masyarakat di sekitar kawasan akan menjadi pihak yang paling terdampak secara langsung apabila terjadi perubahan kondisi hutan yang memicu krisis air bersih.
"Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya. Jika kondisi hutan berubah, maka masyarakat sekitar yang paling pertama terkena dampak krisis air," kata Toni.
Selain berperan dalam siklus hidrologis, gunung tertinggi di Jawa Barat ini merupakan habitat utama bagi satwa dilindungi seperti Macan Tutul, Elang Jawa, dan Surili. Kondisi habitat yang terjaga terpantau melalui kehadiran satwa-satwa tersebut secara rutin.
"Munculnya Macan Tutul di kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili menunjukkan habitat di sini masih terjaga. Kami menyebut mereka akamsi atau anak kampung sini, penghuni asli yang harus kita lindungi bersama habitatnya," ucap Toni.
Dalam skema pengelolaannya, pihak taman nasional melibatkan warga dari 54 desa penyangga sebagai garda terdepan dalam upaya konservasi. Masyarakat yang sebelumnya merupakan penggarap lahan kini diberdayakan sebagai pengelola di 30 titik Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA).
"Hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik," kata Toni.
Kegiatan yang berlangsung pada 11-13 Mei 2026 ini juga menjadi bagian dari upaya pencapaian target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Kementerian Kehutanan menargetkan penurunan emisi sebesar 1,6 miliar ton CO2 ekuivalen melalui penguatan sektor kehutanan.
Langkah strategis tersebut difokuskan pada upaya menekan angka deforestasi agar tetap berada di bawah garis dasar 0,31 juta hektare per tahun. Forum ini diharapkan memperkuat koordinasi komunikasi publik guna menyebarluaskan kebijakan kehutanan nasional secara efektif.