Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pemerintah Indonesia memberikan penegasan bahwa temuan Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukan merupakan ancaman pandemi baru bagi masyarakat global maupun nasional pada Senin (11/5/2026). Langkah ini diambil guna meredam kepanikan publik setelah munculnya laporan mengenai tiga korban jiwa di kapal tersebut.
Risiko kesehatan masyarakat secara umum dinilai masih rendah oleh pihak otoritas kesehatan internasional, sebagaimana dilansir dari Nasional. Penilaian ini didasari pada karakteristik biologis Hantavirus yang sangat kontras jika dibandingkan dengan virus penyebab Covid-19 yang melanda dunia enam tahun silam.
Epidemiolog penyakit menular WHO, Maria van Kerkhove, memberikan penjelasan teknis mengenai perbedaan pola transmisi virus ini. Menurut penjelasannya, penyebaran Hantavirus memerlukan kontak yang sangat dekat dan erat antarindividu atau lingkungan yang terkontaminasi.
"Ini bukan Covid-19, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat, sangat berbeda," ujar Van Kerkhove, Epidemiolog penyakit menular WHO.
Sementara itu, otoritas kesehatan di Indonesia telah mengidentifikasi seorang Warga Negara Asing (WNA) pria berusia 60 tahun di Jakarta Pusat sebagai kontak erat dari penumpang kapal tersebut. WNA ini diketahui memiliki riwayat perjalanan ke Argentina pada akhir Maret sebelum akhirnya tiba di Ushuaia dan berkontak dengan korban terpapar.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menindaklanjuti temuan tersebut dengan pemeriksaan laboratorium lengkap, mulai dari spesimen urine hingga usap tenggorok. Hasil awal menunjukkan bahwa individu tersebut tidak terinfeksi oleh virus yang dikhawatirkan.
"Sekali lagi kabar baiknya dari orang asing ini bahwa hasil pemeriksaan PCR-nya itu negatif Hantavirus," ujar Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Puskesmas Kecamatan Senen kini dikerahkan untuk melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap WNA yang bersangkutan sesuai protokol isolasi kontak erat. Meskipun saat ini pasien masih berada di RSPI Sulianti Saroso, evaluasi laboratorium akan terus diulang secara berkala.
"Koordinasi dilakukan dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat secara reguler, walaupun saat ini pasien masih di RSPI Sulianti Saroso. Kami akan lakukan proses pemeriksaan laboratorium berulang setiap dua minggu," ujar Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Andi juga memberikan penegasan agar publik waspada terhadap isu konspirasi yang mengaitkan virus ini dengan kepentingan komersial vaksin. Ia meminta masyarakat untuk menyaring informasi teknis yang dikeluarkan melalui kanal resmi pemerintah agar terhindar dari hoaks.
"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana ini dipahami oleh masyarakat. Jangan sampai berita yang disampaikan bersifat hoaks atau disinformasi," kata Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Strategi komunikasi risiko telah disusun dalam bentuk Surat Edaran yang didistribusikan ke seluruh Dinas Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Tujuannya adalah untuk memastikan pemahaman teknis di lapangan selaras dengan edukasi publik.
"Risiko komunikasi itu penting. Ketika kami mengeluarkan surat edaran ke seluruh Dinkes dan Fasyankes, itu adalah pada tataran teknis," ujar Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Data historis menunjukkan bahwa kasus Hantavirus tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) sebenarnya telah ada di Indonesia sejak tahun 1991. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan virus tersebut bukanlah fenomena medis yang benar-benar baru di tanah air.
"Artinya sudah cukup lama dibandingkan isu-isu yang cenderung timbul belakangan ini," kata Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Terdapat perbedaan signifikan antara tipe virus di kapal pesiar MV Hondius yang merupakan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan tipe HFRS yang ada di Indonesia. Hingga saat ini, belum ditemukan laporan kasus tipe HPS baik pada manusia maupun hewan pengerat di wilayah Indonesia.
"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," kata Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Perbedaan utama lainnya terletak pada kemampuan penularan antar-manusia yang hanya ditemukan pada strain Andes virus penyebab HPS. Untuk tipe HFRS yang umum ditemukan di Asia dan Eropa, belum ada bukti ilmiah yang mendukung terjadinya transmisi antar-manusia.
"Saya sampaikan bahwa untuk tipe HRS yang terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk yang sudah ada kasusnya sejak tahun 1991 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antar manusia," jelas Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Risiko utama penularan Hantavirus di Indonesia justru berasal dari interaksi dengan tikus atau celurut melalui kotoran, urine, maupun gigitan. Pekerjaan yang berhubungan langsung dengan area sarang tikus atau wilayah banjir memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi.
"Ada gambarnya bagaimana pekerjaan (berisiko) yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, petani, juga dengan daerah yang tergenang banjir, aktivitas di area berisiko seperti ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya," ucap Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan standar kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan paling efektif. Kehadiran tikus di area pemukiman harus diwaspadai karena menjadi sumber utama infeksi virus ini.
"Jadi, kebersihan lingkungan itu sangat terkait dengan adanya sekresi atau ekskresi dari tikus karena tikusnya ada," ujar Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan kontak langsung dengan air banjir yang berpotensi terkontaminasi. Genangan air banjir seringkali membawa patogen dari saluran pembuangan yang bisa memicu berbagai penyakit menular.
"Jangan sampai pas banjir masyarakat malah main-main air banjir kayak kolam renang raksasa, padahal itu berisiko terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah Hantavirus tersebut," ucap Andi Saguni, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.