Kemenkes Respons Kekhawatiran Pandemi Hantavirus di Indonesia

Kemenkes Respons Kekhawatiran Pandemi Hantavirus di Indonesia

Kementerian Kesehatan memperkuat komunikasi risiko guna meredam kecemasan masyarakat terkait potensi pandemi Hantavirus setelah temuan kasus di kapal pesiar MV Hondius. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak tiga orang meninggal dunia dari total lima kasus terkonfirmasi dalam pelayaran tersebut.

Penyebaran virus ini memicu kekhawatiran di tanah air lantaran adanya informasi yang beredar luas di media sosial, dilansir dari Nasional. Warga mengkhawatirkan terulangnya krisis kesehatan serupa pandemi Covid-19 akibat pemberitaan mengenai strain Andes yang dapat menular antarmanusia.

"Banyak yang menyebarkan informasinya dari TikTok, Instagram, X. Katanya ada Hantavirus baru dan bisa jadi pandemi. Kayak ngeri-ngeri kejadian kayak pandemi Covid-19 keulang lagi gitu, loh," kata Syafa, Mahasiswa.

Syafa menceritakan bahwa isu mengenai virus tersebut telah menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan rekan sebaya. Selain Syafa, Rizka juga mengungkapkan trauma mendalam akibat pembatasan sosial dan isolasi mandiri yang pernah dijalaninya beberapa tahun silam.

"Sebelum pertukaran pelajar pun di rumah berbulan-bulan, stres juga rasanya. Takut terulang lagi atau lebih parah gara-gara konten di media sosial," jelas Rizka, Warga.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, menilai munculnya ketakutan publik ini merupakan dampak dari kelelahan psikologis pascapandemi. Menurutnya, terdapat beberapa faktor utama yang mempengaruhi respons skeptis masyarakat terhadap berita wabah baru.

"Jadi, selama Covid-19 masyarakat mengalami ketakutan, pembatasan sosial, tekanan ekonomi juga banjir informasi. Akibatnya muncul kelelahan psikologis terhadap isu wabah baru," kata Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University.

Dicky menambahkan bahwa infodemi dan inkonsistensi komunikasi risiko dari otoritas kesehatan di masa lalu turut menurunkan kepercayaan institusi. Hal ini diperparah dengan polarisasi sosial yang mengaitkan isu kesehatan dengan kepentingan ekonomi tertentu.

"Ketiga, inkonsistensi komunikasi risiko. Jadi di banyak negara termasuk global masyarakat itu melihat perubahan kebijakan cepat, perbedaan pendapat ahli dan politisasi kesehatan, ini yang menurunkan trust terhadap institusi," beber Dicky Budiman.

Ia menegaskan bahwa narasi mengenai rekayasa wabah untuk kepentingan bisnis farmasi tidak relevan dalam kasus ini. Pasalnya, hingga saat ini belum tersedia vaksin global maupun terapi spesifik untuk menangani infeksi Hantavirus secara luas.

"Dan banyak juga netizen yang mengaitkan isu wabah dengan kepentingan bisnis vaksin atau obat. Kita harus lihatnya objektif dan proporsional, ya. Benar bahwa industri farmasi adalah industri besar, dia juga mencari keuntungan. Tapi tidak berarti setiap outbreak adalah rekayasa bisnis, karena dalam kasus Hantavirus misalnya, bahkan belum ada vaksin global yang digunakan luas," kata Dicky Budiman.

Penanganan medis utama bagi pasien yang terinfeksi saat ini masih bersifat perawatan suportif di ruang intensif (ICU). Dicky menegaskan kembali bahwa narasi penjualan vaksin tidak memiliki dasar yang kuat dalam konteks situasi Hantavirus sekarang.

"Terapi spesifik juga sangat terbatas, penanganan utama juga masih supportive care ICU. Jadi narasi wabah dibuat untuk jual vaksin, tidak sesuai dengan kasus Hantavirus saat ini," imbuh Dicky Budiman.

Guna mengatasi krisis kepercayaan, pemerintah didorong untuk mengedepankan keterbukaan data secara ilmiah kepada publik. Transparansi dinilai menjadi kunci utama dalam membangun kembali hubungan antara otoritas kesehatan dan masyarakat.

"Sebetulnya perlu dibangun oleh pemerintah transparansi data, komunikasi ilmiah terbuka dan pengawasan independen, karena trust publik dibangun dari keterbukaan, bukan sekadar otoritas," jelas Dicky Budiman.

Pakar tersebut juga merinci bahwa Hantavirus belum memenuhi syarat utama sebagai pandemi global. Walaupun strain Andes memiliki kemampuan penularan antarmanusia, tingkat efektivitas penyebarannya masih dianggap sangat terbatas dibandingkan virus corona.

"Alhamdulillah, memang belum memenuhi kriteria yang paling penting ini, meskipun ada strain Andes dari Hantavirus ini, yang bisa menyebabkan penularan antarmanusia tapi relatif terbatas," kata Dicky Budiman.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Surat Edaran ke berbagai fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat sistem pengawasan. Langkah ini diambil guna memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan terhindar dari disinformasi.

"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana ini dipahami oleh masyarakat. Jangan sampai berita yang disampaikan bersifat hoaks atau disinformasi," kata Andi Saguni, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.

Artikel terkait

Rekomendasi