Ajang penghargaan Labbaytum Award menjadi pusat perhatian setelah Arab Saudi mengumumkan daftar negara penerima penghargaan untuk penyelenggaraan haji terbaik. Apresiasi ini diberikan kepada negara serta lembaga yang dinilai memiliki keunggulan dalam melayani jemaah berdasarkan indikator dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Dikutip dari Detikcom, Muchlis M. Hanafi selaku Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama RI tahun 2025 memberikan penjelasannya. Pria yang kini menjabat sebagai Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI tersebut menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan bagian dari sistem evaluasi kinerja perhajian.
Sistem evaluasi tersebut dikembangkan oleh Arab Saudi agar sejalan dengan program transformasi dalam kerangka Visi Saudi 2030. Adanya penghargaan ini bertujuan untuk memicu budaya kompetisi yang sehat sekaligus mendongkrak mutu pelayanan haji di kancah global.
Labbaytum Award merupakan sebuah ajang apresiasi tahunan yang diinisiasi oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Agenda ini berfungsi untuk mengukur dan menilai efektivitas kinerja negara-negara penyelenggara haji dari berbagai penjuru dunia.
Penilaian dalam ajang ini tidak hanya menitikberatkan pada tingkat kepuasan jemaah semata. Tim penilai juga meninjau tata kelola penyelenggaraan haji secara menyeluruh, mencakup fase perencanaan hingga eksekusi pelayanan langsung di lapangan.
Pada musim haji 1447 H/2026 M, malam penganugerahan Labbaytum Award dilaksanakan pada 14 Zulhijah 1447 H yang bertepatan dengan 1 Juni 2026. Sejumlah negara yang berhasil membawa pulang penghargaan tahun ini antara lain Irak, Malaysia, Turki, Aljazair, Yordania, dan China sesuai kategori masing-masing.
Instrumen evaluasi ini lahir dari proyek transformasi besar perhajian Arab Saudi yang tertuang dalam Visi Saudi 2030 serta Program Khidmat Dhuyufirrahman sejak 2018. Melalui gerakan ini, Arab Saudi berkomitmen menciptakan sistem pelayanan haji modern, terintegrasi, digital, dan berbasis pada kinerja.
Kondisi tersebut membuat negara peserta dituntut untuk tidak sekadar memberikan pelayanan yang baik. Setiap negara juga wajib menunjukkan performa yang terukur, terdokumentasi, serta memenuhi standar regulasi evaluasi dari pihak Saudi.
"Karena itu, Labbaytum tidak hanya mengukur kepuasan jemaah, tetapi juga kepatuhan terhadap timeline Saudi, kualitas perencanaan, integrasi layanan, inovasi, serta kemampuan mendokumentasikan kinerja secara terukur dan berbasis data," kata Muchlis M. Hanafi.
Indikator Penilaian Standar Tinggi
Tolok ukur keberhasilan haji yang konvensional biasanya didominasi oleh aspek kelancaran operasional dan kepuasan jemaah. Namun, Labbaytum Award menerapkan parameter yang jauh lebih luas dan komprehensif.Beberapa poin utama yang masuk dalam radar penilaian meliputi tingkat kepuasan jemaah haji, kepatuhan terhadap regulasi Arab Saudi, serta ketepatan penyelesaian visa dan administrasi. Aspek perencanaan, integrasi layanan, inovasi, transformasi digital, kinerja operasional, hingga pelaporan berbasis data juga menjadi penentu.
Menurut Muchlis, Arab Saudi saat ini memantau performa dari seluruh ekosistem tata kelola haji, bukan sekadar melihat hasil akhir kepuasan jemaah. Penghargaan tersebut menjadi bukti sejauh mana suatu negara mampu menyesuaikan diri dengan sistem perhajian modern, digital, dan berbasis manajemen mutu data.