Kementerian Kebudayaan Ajukan Tempe dan Mak Yong ke UNESCO

Kementerian Kebudayaan Ajukan Tempe dan Mak Yong ke UNESCO

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengharapkan budaya tempe dan seni teater Mak Yong dapat resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada akhir tahun ini. Kepastian mengenai pengajuan dua elemen kebudayaan tersebut disampaikan di Jakarta pada Selasa (19/5/2026).

"Tahun ini kalau tidak salah ada dua ya, yaitu budaya tempe dan satu lagi Mak Yong. Mudah-mudahan nanti bisa diinskripsi di UNESCO pada akhir tahun, biasanya bulan November, bulan Desember," kata Fadli, Selasa (19/5/2026).

Pendaftaran ini diproyeksikan mampu memperluas jangkauan distribusi komoditas tempe di pasar global. Langkah tersebut dilansir dari Detik Travel juga ditujukan demi mendongkrak taraf pendapatan para produsen tempe di tingkat lokal.

Penetapan status dari lembaga internasional ini dinilai strategis karena tempe menyimpan nilai historis, ilmu pengetahuan, serta metode pengolahan pangan turun-temurun. Berdasarkan arsip berita pada 30 Maret 2025, makanan tradisional ini dipandang bukan sekadar konsumsi harian masyarakat.

"Masuknya Budaya Tempe dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO akan semakin memperkuat tempe sebagai warisan budaya yang harus dijaga, sekaligus mendorong kesadaran global akan nilai budaya, manfaat gizi dan kesehatan, serta keberlanjutannya," kata Fadli kala itu.

Selain tempe, upaya pelestarian juga menyasar seni pertunjukan Mak Yong yang diajukan melalui mekanisme pengusulan bersama antara Indonesia dan Malaysia. Teater tradisional yang mengandung unsur mistis tersebut berkembang di wilayah Kepulauan Riau serta kawasan Malaysia.

Kolaborasi bilateral ini menjadi penanda bahwa aspek kebudayaan melampaui batas-batas administrasi negara. Langkah diplomasi budaya tersebut sekaligus menguatkan komitmen kedua belah pihak dalam merawat tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.

Bagi pihak Indonesia, pengajuan ke UNESCO mengusung misi penyelamatan yang mendesak lantaran kesenian Mak Yong kini menghadapi ancaman kepunahan. Minimnya proses regenerasi pelaku seni membuat pertunjukan Melayu klasik yang memadukan tari, musik, drama, dan ritual adat ini memerlukan atensi internasional agar tetap eksis.

Artikel terkait

Rekomendasi