Kementerian Kebudayaan Siapkan Kolaborasi Musik Gambus dan Andalusi Maroko

Kementerian Kebudayaan Siapkan Kolaborasi Musik Gambus dan Andalusi Maroko

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tengah menyiapkan kolaborasi strategis untuk memajukan ekosistem musik tradisional bersama Kerajaan Maroko. Langkah ini dilakukan melalui pertemuan antara Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Duta Besar Maroko yang baru, Redouane Houssaini, di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, seperti dilansir dari Medcom.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Maroko dinilai memiliki fondasi yang kuat karena adanya kedekatan historis dan geografis. Kerja sama bilateral ini diperkokoh oleh payung hukum serta kemitraan strategis yang matang.

Sektor musik tradisional menjadi fokus utama dalam pembahasan potensi kolaborasi budaya tersebut. Fadli Zon melihat terdapat kemiripan yang signifikan antara musik Andalusi asal Maroko dengan musik gambus khas Indonesia.

"Ke depannya, Indonesia dan Maroko dapat menjalin kerja sama budaya melalui dua genre musik tersebut. Selain mengadakan pertunjukan musik, kita bisa juga mengundang pemain musik gambus dan musik Andalusi untuk berkolaborasi dalam panggung yang sama," kata Fadli Zon, di Jakarta, pada Rabu, 3 Juni 2026.

Upaya memperkuat diplomasi budaya ini akan didorong melalui percepatan pengesahan Nota Kesepahaman (MoU). Kesepakatan tersebut mencakup bidang kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga optimalisasi tradisi serta kearifan lokal.

Percepatan Pengesahan MoU Budaya

Implementasi nyata dari kerja sama ini dinilai lebih penting daripada sekadar dokumen formal. Melalui program konkret, ekosistem budaya kedua negara diharapkan mampu terangkat hingga ke tingkat global.

“Penandatanganan MoU dapat dipercepat agar menjadi tindak lanjut dari kooperasi antara Indonesia dengan Maroko," ujar Faldi Zon.

"Selain itu, kita juga dapat mencanangkan program-program yang dapat memajukan ekosistem budaya, seperti program residensi seniman, pertunjukan musik tradisional dan konferensi budaya,” lanjutnya.

Merespons rencana tersebut, Redouane Houssaini menyepakati peluang kolaborasi yang terbagi dalam tiga poin utama. Poin tersebut meliputi pengembangan ekonomi berbasis budaya, promosi kebudayaan, serta kemitraan antarlembaga seperti museum.

“Kita dapat terus berusaha untuk mempromosikan kebudayaan kita. Melalui persahabatan yang berlandaskan penghormatan, kita dapat melakukan yang terbaik untuk memajukan budaya negara masing-masing," jelas Redouane Houssaini.

Pemerintah berharap kedua negara terus aktif menggali potensi kerja sama kebudayaan secara berkelanjutan. Realisasi kesepakatan ini ditargetkan mampu memberi kontribusi positif bagi industri kreatif sekaligus menjaga kelestarian tradisi lokal.

Artikel terkait

Rekomendasi