Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat penyelesaian pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di berbagai wilayah melalui penerapan sistem kerja tiga sif dan penambahan alat berat. Langkah taktis ini diambil guna mengoptimalkan pengerjaan fasilitas pendidikan di lapangan.
Dilansir dari Detik Finance, pemerintah juga meningkatkan jumlah tenaga kerja dan menyesuaikan metode konstruksi demi memastikan proyek berjalan efektif serta efisien. Langkah akselerasi ini diambil agar fasilitas tersebut dapat segera dimanfaatkan.
"Hal tersebut dimaksudkan agar pekerjaan lebih optimal," terang Menteri Pekerjaan Umum RI, Doddy Hanggodo dalam pernyataan tertulis yang diterima detikJatim, Sabtu (16/5/2025) sore.
Menteri PU menjelaskan bahwa target rampungnya seluruh proyek SR berpatokan pada instruksi Presiden Prabowo Subianto. Pihaknya berkomitmen menjaga kualitas bangunan meskipun proses pengerjaan digenjot secara maraton.
"Bapak Presiden berpesan supaya (pembangunan SR) selesai on time, on schedule, kualitasnya diperhatikan dan dikerjakan secara efektif dan efisien. Pokoknya semua Sekolah Rakyat kita upayakan bisa selesai, Insyaallah 20 Juni 2026," tandas Menteri PU.
Upaya percepatan ini disebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Sektor pendidikan menjadi fokus utama dalam pemerataan pembangunan nasional.
"Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Olah karena itu, Kementerian PU ingin memastikan fasilitas pendidikan ini dibangun secara cepat dan berkualitas," imbuhnya.
Salah satu proyek yang sedang dikebut adalah SR Jawa Timur 2 di Kelurahan Sidoharjo, Kabupaten Pacitan. Proyek senilai Rp 226 miliar ini berdiri di atas lahan seluas 7,7 hektare dan melibatkan sebanyak 816 pekerja untuk membangun 17 massa gedung.
"Untuk pembangunan Sekolah Rakyat wilayah Kabupaten Pacitan ini sekarang ini di angka 50,47 persen dengan progres per harinya di angka 1 sampai 2 persen," papar Ahmad Fadrian, Engineering PT Brantas Abipraya (Persero) yang mengerjakan proyek tersebut.
Kondisi geografis Pacitan yang didominasi pegunungan dan pantai menjadi tantangan logistik utama dalam mendatangkan material. Pengelola proyek menyiasati kendala tersebut dengan memasok bahan baku dari wilayah Solo dan Madiun.
"Kita mencari akses dari Solo ataupun Madiun, jadi untuk mempercepat. Lalu untuk jam kerja sendiri ada 3 sif, untuk pengecoran itu kita sampai dini hari bahkan pagi hari untuk memaksimalkan progres," pungkas Fadrian.