Media sosial digempar oleh dugaan kasus child grooming yang melibatkan seorang kepala sekolah SMK swasta di Pamulang, Tangerang Selatan. Akibat tindakan tersebut, pihak sekolah kini telah menonaktifkan oknum kepala sekolah yang bersangkutan.
Seperti diberitakan oleh Detik Health, child grooming merupakan bentuk manipulasi psikologis oleh orang dewasa untuk memikat anak-anak demi tujuan eksploitasi seksual. Pelaku dalam kasus ini dilaporkan menyasar korban yang berstatus fatherless atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah.
Meskipun tidak semua anak fatherless menjadi korban, spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ memaparkan bahwa kekosongan figur ayah membuat anak lebih rentan terhadap manipulasi emosional. Predator biasanya memanfaatkan celah psikologis tersebut untuk hadir sebagai sosok penolong yang suportif.
"Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, lalu ada orang dewasa yang hadir dengan perhatian intens, memuji, mendengarkan, dan memberi rasa 'dipahami', anak bisa menjadi lebih mudah dekat secara emosional," ucap dr Lahargo pada detikcom, Senin (18/5/2026).
Dalam melancarkan aksinya, para pelaku cenderung menggunakan pendekatan yang halus untuk membangun ketergantungan emosional dari korban.
"Menjadi tempat curhat, bahkan tampil seperti sosok yang 'paling memahami' anak. Anak akhirnya merasa nyaman, bergantung, lalu batas relasi sehat mulai dikaburkan," kata dr Lahargo.
Tindakan manipulasi ini membawa dampak buruk jangka panjang, mulai dari trauma psikologis hingga gangguan kecemasan akut. Korban juga kerap didera rasa bersalah, penolakan sosial, serta krisis kepercayaan terhadap orang lain di masa depan.
"Ini dapat menyebabkan gangguan relasi saat dewasa nanti. Banyak korban mengalami kebingungan karena pelaku sebelumnya dianggap sebagai sosok baik atau figur yang dipercaya tapi saat ini berubah menjadi sosok yang menakutkan dan membuat tidak nyaman," katanya.
Langkah Pencegahan yang Perlu Dilakukan
Guna menangkal ancaman predator emosional ini, orang tua diimbau untuk mempererat kedekatan emosional serta komunikasi yang tidak menghakimi dengan anak. Edukasi mengenai batasan tubuh dan privasi juga perlu ditanamkan sejak dini.
"Kenali perubahan perilaku anak, misalnya mendadak tertutup, takut pada orang tertentu, atau terlalu dekat dengan orang dewasa tertentu. Lalu, tingkatkan quality time dan kelekatan emosional dalam keluarga," ujar dr Lahargo.
Pengawasan terhadap interaksi digital anak melalui media sosial atau aplikasi pesan pribadi juga menjadi poin krusial yang tidak boleh diabaikan.
"Anak yang merasa dicintai, didengar, dan punya rumah yang aman secara emosional biasanya lebih kuat terhadap manipulasi predator," tandasnya.