Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam setelah jet tempur AS melumpuhkan dua kapal tanker Iran di kawasan Selat Hormuz pada Jumat, 8 Mei 2026. Insiden ini terjadi di tengah blokade laut yang diterapkan Washington sejak April lalu untuk menekan Teheran dalam kesepakatan diplomatik.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa jet tempur F/A-18 Super Hornet menembakkan amunisi presisi ke arah cerobong asap kapal M/T Sea Star III dan M/T Sevda. Langkah tersebut diambil guna mencegah kapal-kapal yang dianggap tidak patuh tersebut memasuki wilayah pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam keras tindakan militer tersebut melalui media sosial X. Ia menilai Washington lebih mengedepankan konfrontasi fisik dibandingkan mencari jalan keluar melalui meja perundingan.
"Setiap kali solusi diplomatik ada di meja perundingan. AS memilih petualangan militer yang gegabah," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Diplomat senior Iran tersebut mempertanyakan apakah tindakan keras ini merupakan taktik tekanan atau hasil manipulasi pihak lain terhadap Presiden Donald Trump. Araghchi menegaskan bahwa negaranya memiliki ketahanan yang kuat menghadapi tekanan pihak luar.
"Apakah ini taktik tekanan yang kasar? Atau hasil dari upaya pihak lain yang sekali lagi menipu Presiden AS untuk masuk ke dalam situasi yang sulit?" tambah Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Araghchi juga menekankan bahwa hasil dari setiap tekanan militer tidak akan mengubah posisi kedaulatan negaranya.
"Apa pun penyebabnya, hasilnya sama: rakyat Iran tidak pernah tunduk pada tekanan," tegas Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Di sisi lain, konflik merembet ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA) yang melaporkan adanya serangan udara dari arah Iran pada hari yang sama. Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat dua rudal balistik dan tiga drone.
Insiden serangan udara tersebut dilaporkan menyebabkan tiga orang mengalami luka-luka kategori sedang. Sementara itu, pihak militer Iran mengklaim bahwa serangan udara AS justru menghantam wilayah sipil di Kepulauan Qeshm dan Bandar Khamir, yang kemudian dibalas dengan serangan terhadap kapal militer AS.
Dampak geopolitik ini memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi, termasuk di Indonesia. Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, pada Selasa, 12 Mei 2026, menyatakan pemerintah akan mempercepat pemberian insentif mobil listrik untuk menekan ketergantungan pada impor BBM.
"Kelihatannya itu perangnya masih panjang. Artinya konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi. Jadi kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya memprediksi ketegangan ini tidak akan mereda dalam waktu dekat dan mungkin baru akan menunjukkan perubahan pada September mendatang. Strategi insentif kendaraan listrik juga ditujukan untuk menyerap kelebihan pasokan listrik nasional yang mencapai 30 persen.
"Saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, (subsidi) BBM juga mengecil. Itu utamanya," tambah Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Bersamaan dengan krisis di Timur Tengah, Departemen Pertahanan AS juga merilis 162 dokumen rahasia terkait penampakan UFO sejak tahun 1940-an. Langkah ini menuai kritik dari sejumlah politisi yang menganggapnya sebagai upaya pengalihan isu dari kasus hukum Jeffrey Epstein.