Eskalasi konflik di Selat Hormuz kembali meningkat setelah sebuah kapal komersial dilaporkan terkena serangan proyektil misterius pada Selasa malam, di tengah keputusan Amerika Serikat untuk membekukan operasi militer bertajuk Proyek Kebebasan.
Laporan mengenai serangan tersebut dikonfirmasi oleh UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melalui sumber terverifikasi, meski rincian lebih lanjut mengenai identitas kapal dan tingkat kerusakan belum tersedia secara lengkap.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, menegaskan posisi negaranya terhadap kehadiran militer Amerika Serikat dan sekutunya di jalur perairan vital tersebut yang dianggap mengganggu stabilitas energi global.
"Kami tahu betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika, sementara kami baru saja memulai." kata Mohammad Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Ghalibaf, yang juga merupakan negosioator utama dalam pembicaraan bulan lalu, menuding pihak asing sebagai penyebab utama ancaman terhadap keamanan pelayaran komersial di kawasan tersebut.
"Keamanan pelayaran dan transit energi telah terancam oleh AS dan sekutunya dengan pelanggaran gencatan senjata dan blokade. Namun, tindakan jahat mereka akan gagal." ujar Mohammad Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) mengklaim telah mencegat rudal dan drone yang diarahkan ke wilayah mereka selama dua hari berturut-turut, termasuk serangan terhadap pelabuhan minyak Fujairah yang disebut sebagai eskalasi berbahaya.
Pemerintah Iran membantah keterlibatan mereka dalam serangan udara ke wilayah UEA tersebut melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh juru bicara militer mereka pada Selasa.
"Jika tindakan seperti itu telah dilakukan, kami akan mengumumkannya dengan tegas dan jelas" kata Juru Bicara Militer Iran.
Situasi ini mempersulit upaya gencatan senjata yang sempat diumumkan pada awal April, di mana Iran berjanji menghentikan serangan drone sementara AS tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan ini berakar dari Operasi Epic Fury yang dimulai sejak 28 Februari melalui serangan udara AS dan Israel, yang kemudian dibalas Teheran dengan penutupan jalur laut yang menampung 20 persen pasokan minyak dunia.
Hingga saat ini, hanya sedikit kapal komersial yang berani melintasi selat tersebut, dengan satu kapal dilaporkan berhasil keluar melalui pengawalan militer Amerika Serikat di bawah instruksi Donald Trump.