Ibadah haji menjadi cita-cita besar bagi setiap umat Islam yang rela mengumpulkan dana selama bertahun-tahun demi mengunjungi Tanah Suci. Dilansir dari Info, ada kalanya rencana keberangkatan tersebut tertunda karena Allah SWT menghadirkan hikmah yang lebih mendalam melalui peristiwa kemanusiaan.
Kisah inspiratif ini dialami oleh Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar yang dikenal karena kedalaman ilmu dan kedermawanannya. Meskipun sangat mendambakan ibadah haji, beliau justru membatalkan perjalanannya setelah menemui kenyataan pahit di tengah perjalanannya menuju Makkah.
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغfره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
Ulama tersebut mengajarkan bahwa ketakwaan sejati tidak hanya tercermin melalui rutinitas ibadah ritual semata. Kepedulian terhadap sesama manusia merupakan salah satu bentuk pengabdian yang sangat ditekankan dalam agama.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran: 102)
Saat sedang menempuh rute menuju Tanah Suci, Abdullah bin Mubarak berhenti di sebuah daerah dan menemukan seorang ibu bersama anak-anaknya. Keluarga tersebut berada dalam kondisi kelaparan yang sangat ekstrem hingga terpaksa mengonsumsi bangkai untuk bertahan hidup.
Tersentuh oleh penderitaan tersebut, beliau memutuskan untuk menyerahkan seluruh harta yang telah disiapkan sebagai bekal haji kepada keluarga miskin itu. Dampaknya, Abdullah bin Mubarak kehilangan biaya perjalanan dan gagal melaksanakan rukun Islam kelima pada tahun tersebut.
Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa membantu fakir miskin dan menyelamatkan nyawa sesama memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Amal sosial semacam ini sangat dicintai oleh Allah SWT melebihi kepentingan pribadi untuk beribadah sunnah.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
Mendahulukan Kepentingan Umat
Tindakan Abdullah bin Mubarak mencerminkan keikhlasan luar biasa karena beliau mengorbankan impian besarnya tanpa mengharapkan apresiasi dari manusia. Hal ini merupakan karakteristik ulama salaf yang senantiasa mengutamakan kebutuhan mendesak umat di atas keinginan diri sendiri.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali Imran: 92)
Urgensi Kesalehan Sosial
Di era modern, semangat untuk saling membantu harus terus dipupuk mengingat masih banyak individu yang terhimpit beban ekonomi dan pendidikan. Fokus pada kesalehan pribadi tidak boleh membuat seseorang menutup mata terhadap penderitaan orang-orang di sekitarnya.
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك pada سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ibadah haji memang merupakan pencapaian spiritual yang agung bagi seorang Muslim. Namun, memiliki hati yang penuh kasih sayang serta kepedulian sosial juga menjadi sarana yang kuat untuk meraih ridha dari Allah SWT.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7)
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. اللهم أصلح أئمتنا وولاة أمورنا، واجعل هذا البلد آمنًا مطمئنًا وسائر بلاد المسلمين. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكERِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.