Nabi Musa AS pernah memohon kepada Allah SWT agar diberikan kelancaran dalam berbicara. Peristiwa ini termaktub dalam Al-Qur'an dan menjadi doa yang dapat diamalkan setiap muslim, dilansir dari Detikcom.
Nabi Musa AS diutus untuk menghadapi penguasa zalim yang sangat kuat, yaitu Fir'aun. Dalam situasi tersebut, kemampuan berbicara menjadi sangat penting agar pesan kebenaran dapat tersampaikan dengan jelas.
Nabi Musa AS disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur'an dan digambarkan sebagai sosok seorang yang terpilih. Allah SWT memberi banyak mukjizat kepada Nabi Musa AS, salah satunya yakni berupa kelihaian dalam berbicara.
Dalam surat Maryam ayat 51-53 Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami)."
Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk berdakwah kepada Fir'aun. Raja tersebut dikenal sombong dan bahkan mengaku sebagai tuhan.
Tugas berat ini harus dijalani Nabi Musa meski ia menghadapi tantangan pribadi terkait kemampuannya berbicara. Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an menegaskan perintah tersebut:
ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ
Artinya: Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas".
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Musa memiliki kesulitan berbicara sejak kecil. Kondisi ini membuat beliau merasa perlu memohon pertolongan Allah SWT agar lisannya dimudahkan dalam menyampaikan dakwah.
Doa Nabi Musa dalam Al-Qur'an
Menghadapi penguasa zalim membutuhkan kesiapan mental dan lisan. Karena itu, Nabi Musa tidak langsung menjalankan tugas tanpa persiapan, melainkan memohon ketenangan kepada Allah SWT.
Permohonan Nabi Musa AS diabadikan dalam Surah Thaha ayat 25-28:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ uqdatan mmin llsāni yafqahū qaulī
Arab latin: Rabbisyrahlī shadrī wayassirlī amrī wahlul 'uqdatan min lisānī yafqahū qaulī.
Artinya: Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku (QS Thaha: 25-28).
Melalui doa ini, Nabi Musa tidak hanya meminta kelancaran berbicara. Beliau juga memohon ketenangan hati dan kemudahan dalam menuntaskan seluruh urusannya.
Penyebab Gangguan Lisan Nabi Musa
Penjelasan para ulama dalam kitab Qashashul Anbiya karya Ibnu Katsir menyebutkan gangguan lisan tersebut bermula sejak masa kecil. Saat masih bayi, Nabi Musa dikisahkan pernah menarik jenggot Fir'aun.
Fir'aun yang marah berniat membunuhnya, namun istrinya, Asiah, menenangkan dengan menyebut Musa belum mengerti apa-apa. Untuk menguji hal itu, Fir'aun meletakkan buah dan bara api di hadapan Musa kecil.
Tangan Nabi Musa dialihkan oleh malaikat sehingga ia mengambil bara api dan memasukkannya ke dalam mulut. Kejadian tersebut menyebabkan lidah Nabi Musa mengalami gangguan sehingga ucapannya menjadi kurang fasih.
Saat berdoa, Nabi Musa hanya memohon agar kekakuan pada lidahnya dikurangi supaya ucapannya dapat dipahami. Allah SWT kemudian mengabulkan permintaan tersebut sebagaimana termaktub dalam surat Thaha ayat 36:
Artinya: Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa".