Kisah Painah Jemaah Haji Wonosobo Mewujudkan Impian dari Jualan Daun Pisang

Kisah Painah Jemaah Haji Wonosobo Mewujudkan Impian dari Jualan Daun Pisang

Impian menuju Baitullah berhasil diwujudkan oleh seorang jemaah haji Indonesia melalui perjuangan panjang. Painah, seorang nenek berusia 65 tahun yang berasal dari Dusun Ngedok, Wonosobo Barat, Jawa Tengah, sukses menginjakkan kaki di Arab Saudi dari hasil jerih payahnya berdagang daun pisang.

Seperti dikutip dari Detikcom, jemaah yang masuk dalam kelompok terbang (kloter) YIA 22 ini telah tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, pada Minggu (17/5) sekitar pukul 12.00 waktu Arab Saudi (WAS). Painah berangkat dari Yogyakarta International Airport (YIA) menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-6522 bersama enam petugas dan 354 jemaah lainnya.

Keberhasilan ini menyisakan cerita perjuangan yang luar biasa. Saban hari, ketika malam masih larut, Painah sudah terjaga demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk ongkos berhaji.

"Saya itu buruh. Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun," ujar Painah kepada tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Bandara Jeddah.

Rutinitas harian Painah dimulai sejak pukul 01.30 dini hari. Dirinya berjalan kaki membelah udara dingin menuju Pasar Pagi Wonosobo dengan menggendong daun pisang hasil petikannya sendiri.

"Kalau sekarang memetik, lalu dilipat, ditimbang satu kilo satu kilo, lalu dimasukkan ke karung terus dijual ke pasar. Dari itu jualan daun, tidak lain-lain," akuinya.

Pendapatan dari berdagang daun pisang ini sebenarnya tergolong kecil, yakni hanya berkisar Rp 2.000 sampai Rp 5.000 per kilogram. Penghasilannya pun tidak menentu, di mana ia hanya mendapat Rp 15 ribu saat pasar sepi, dan bisa mencapai Rp 200 ribu ketika kondisi ramai.

Meski tidak menentu, Painah tetap konsisten menyisihkan uangnya untuk ditabung. Anak kandungnya, Sabar Munasir (33), mengungkapkan bahwa sang ibu mendaftarkan haji dengan mengumpulkan uang receh.

"Daftar haji pakai uang receh. Uang receh dikumpulkan untuk menabung haji. Ibu sudah bertahun-tahun menabung demi untuk haji," kata Sabar.

Painah terdaftar sebagai calon jemaah haji sejak tahun 2012. Selama masa tunggu 14 tahun, rasa khawatir sempat melanda pikirannya karena faktor usia, bahkan ia sempat pasrah jika tabungannya kelak digunakan untuk biaya pengobatan atau pemakaman.

"Remen sanget (senang sekali) bisa sampai Tanah Suci menjalankan ibadah haji," ungkap Painah dengan mata berkaca-kaca penuh syukur.

Saat berada di Makkah, Painah yang tergabung dalam rombongan 6 akan menempati Number One Hotel 1 di Sektor 8. Seluruh rangkaian ibadah haji akan ia jalani bersama Sabar, yang berangkat menggantikan ayahnya karena tidak lolos syarat kesehatan atau istithaah.

Artikel terkait

Rekomendasi