Pekerjaan membersihkan kaca gedung tinggi bukan sekadar membersihkan permukaan bangunan.
Di balik tampilan gedung-gedung tinggi yang berkilau, ada pekerja yang setiap hari bergantung pada tali pengaman di ketinggian puluhan hingga ratusan meter.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu terdengar menakutkan. Namun, bagi para pekerja rope access atau pembersih kaca gedung tinggi, rasa takut justru menjadi hal yang harus dikendalikan setiap kali mereka turun dari atas gedung.
Bagi Rizki Rianto (36), profesi pembersih kaca gedung tinggi bermula dari ajakan seorang teman. Sebelum terjun ke dunia rope access, ia bekerja di bengkel.
Namun, tawaran pekerjaan yang dianggap lebih menantang membuatnya tertarik mencoba.
"Dulu karena penghasilannya juga. Sebelumnya saya kerja di bengkel. Terus ada teman yang ngajak," ujar Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Meski tertarik, bukan berarti ia langsung berani menghadapi ketinggian. Rizki mengaku sempat pucat ketika pertama kali harus turun menggunakan tali di sisi gedung.
"Namanya baru mulai kerja di ketinggian," kata Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Gedung pertama yang ditanganinya berada di wilayah Cilangkap, Jakarta Timur. Saat itu, ia belum benar-benar bekerja sendiri karena masih didampingi senior yang mengajarkan teknik penggunaan alat dan cara turun menggunakan tali.
Rasa takut paling besar muncul ketika ia pertama kali melihat ke bawah dari atas gedung.
"Awalnya lihat ke bawah takut juga. Tapi karena didampingi terus sama senior, jadi lebih tenang," ujar Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Menurut dia, proses adaptasi tidak berlangsung lama. Dalam dua sampai tiga hari, tubuh dan pikirannya mulai terbiasa dengan situasi di ketinggian.
Meski demikian, menjadi pekerja rope access bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sembarangan.
Rizki mengaku harus menjalani proses pelatihan dan sekolah cukup lama sebelum benar-benar bisa bekerja di lapangan.
"Dulu sekitar tiga sampai empat tahun baru benar-benar dapat lisensi dan bisa diturunkan kerja," kata Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Dalam profesi ini, kemampuan teknis dan pemahaman terhadap alat keselamatan menjadi hal utama. Sebab, para pekerja bukan hanya membersihkan kaca, tetapi juga melakukan pekerjaan lain, di antaranya pengecatan hingga coating bagian luar gedung.
Selama 10 tahun bekerja, Rizki sudah beberapa kali menangani proyek di luar Jakarta, termasuk Kalimantan.
Ia mengatakan, sistem kerja yang dijalaninya bersifat freelance dengan pembagian hasil berdasarkan proyek yang dikerjakan bersama tim.
"Kalau ada proyek, hasilnya dibagi rata sesuai tim yang turun," ujar Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Kehidupan sebagai pekerja lepas menuntut modal mandiri yang tidak sedikit untuk urusan keselamatan.
"Satu set perlengkapan bisa sekitar Rp 25 juta," kata Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Biaya tersebut mencakup harness, tali, carabiner, hingga berbagai alat pendukung keselamatan lainnya. Rizki mengaku membeli perlengkapan itu secara bertahap dari hasil proyek yang didapatkan.
Selain soal alat, tantangan terbesar saat bekerja menurut Rizki adalah kondisi cuaca, terutama angin.
"Di gedung tinggi angin bisa tiba-tiba kencang," tutur Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Karena itu, ia harus menjaga fokus dan menghindari kepanikan saat berada di atas gedung.
"Yang penting jangan panik. Kalau panik malah bisa blank," ucap Rizki, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Cerita serupa juga dialami Fajar Maulana (27). Ia mengaku awalnya tidak pernah membayangkan akan bekerja sebagai pembersih kaca gedung tinggi.
"Awalnya saya kerja di bidang lain sebelum jadi rope access. Saya lihat pekerjaan ini lebih menantang," ujar Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Ketertarikan terhadap tantangan membuatnya mencoba masuk ke profesi itu. Namun, seperti pekerja lainnya, rasa takut tetap muncul ketika pertama kali belajar bekerja di ketinggian.
Menurut dia, rasa takut perlahan berubah menjadi kebiasaan setelah memahami standar operasional prosedur (SOP) dan penggunaan alat keselamatan.
Selama tujuh tahun bekerja, Fajar pernah menangani gedung setinggi 257 meter atau sekitar 72 lantai di Jakarta. Ia juga pernah bekerja di berbagai daerah di Indonesia.
Meski terlihat ekstrem, Fajar mengatakan pekerjaan ini tetap mengutamakan prosedur keselamatan yang ketat.
"(Sebelum kerja) Briefing pagi, doa masing-masing, lalu cek alat dua kali sebelum mulai kerja," ujar Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Saat bekerja, mereka mengandalkan sistem tali yang terhubung dengan harness di tubuh. Dengan bantuan descender dan alat pengontrol tali lainnya, pekerja bergerak turun sambil membersihkan kaca di sisi gedung.
Fajar mengatakan, kondisi bangunan tertentu bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama gedung dengan struktur overhang atau bentuk bangunan yang menjorok keluar.
"Biasanya kalau kondisi gedung overhang, jadi bentuk bangunannya menjorok dan enggak rata. Itu yang bikin takut," kata Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Selain kondisi bangunan, hujan mendadak juga menjadi situasi yang cukup merepotkan.
"Kalau hujan tiba-tiba, biasanya langsung turun kalau memungkinkan. Kalau sudah telanjur di tengah pekerjaan, itu yang agak susah," ujar Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Meski berisiko tinggi, Fajar mengaku belum pernah mengalami cedera serius selama bekerja. Ia justru merasa pekerjaan itu membuat tubuhnya tetap aktif.
"Kalau sakit jarang, karena kerja seperti olahraga tiap hari," kata Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Di sisi lain, pekerjaan tersebut sempat membuat keluarganya khawatir.
"Awalnya sempat tanya, ‘Enggak ada kerjaan lain?’" ujar Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Namun, seiring waktu keluarganya mulai memahami pekerjaannya setelah melihat prosedur keselamatan yang diterapkan.
"Saya juga sering kirim video supaya keluarga tahu pekerjaan ini enggak seseram yang dibayangkan selama safety dijalankan," kata Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Fajar mengatakan masih banyak masyarakat yang salah memahami profesi rope access. Menurut dia, banyak orang mengira para pekerja tersebut menggunakan gondola.
"Padahal beda. Gondola pakai mesin dan pijakan, sementara kami murni pakai tali," ujar Fajar, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Hidup dari Proyek ke Proyek
Bagi Supriatna (33), dunia pekerjaan di ketinggian sudah dikenal sejak lama. Sebelum menjadi rope access, ia terlebih dahulu bekerja membersihkan kaca gedung menggunakan gondola.
"Sudah cukup lama, sekitar 15 tahun. Tapi khusus di dunia rope access ini baru sekitar tujuh sampai delapan tahun," ujar Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Ia memilih beralih dari gondola ke rope access karena merasa sistem kerja menggunakan tali lebih fleksibel.
Meski sudah lama bekerja di bidang ini, Priatna mengaku bahwa rasa takut tidak pernah benar-benar hilang.
"Semua orang yang pertama kali turun pasti takut," katanya Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Bahkan menurut dia, pekerja yang sudah lama justru cenderung lebih berhati-hati dibanding pekerja baru.
"Kadang pekerja baru justru terlalu percaya diri dan enggak sesuai standar. Kalau yang sudah lama pasti lebih menjaga keselamatan," ujar Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Selama bekerja, Supriatna mengaku lebih mengandalkan kedisiplinan dalam penggunaan alat keselamatan. Sebab, sebagian besar risiko pekerjaan harus ditanggung sendiri.
Profesi ini juga memiliki pola kerja yang tidak menentu karena bergantung pada proyek.
"Minimal satu proyek dalam sebulan," katanya Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Namun, ada kalanya proyek sepi dan pekerjaan berhenti sementara. Meski demikian, Priatna tetap memilih bekerja secara freelance dibanding terikat perusahaan tetap.
"Freelance lebih fleksibel dan penghasilannya bisa sama," ujarnya Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Dalam satu bulan, penghasilannya berkisar Rp 10 juta hingga Rp 12 juta tergantung jumlah proyek yang didapat.
Namun menurut dia, angka tersebut belum sepenuhnya sebanding dengan risiko pekerjaan. Meski begitu, ia mengaku tetap bertahan karena sudah menyukai pekerjaan tersebut.
"Selain uang, memang karena suka dan sudah jadi hobi," ujarnya Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Tantangan meyakinkan orang terdekat juga menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
"Awalnya melarang. Tapi karena saya memang sudah cinta pekerjaan ini, lama-lama dia terbiasa," katanya Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Supriatna mengatakan, pekerja rope access harus memiliki kemampuan teknis dan mental yang kuat.
Sebab, mereka bekerja di lingkungan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kesiapan fisik. Saat cuaca buruk, pekerjaan sering molor dari target.
"Sering, biasanya karena faktor cuaca," ujarnya Supriatna, pembersih kaca gedung tinggi Jakarta.
Meski begitu, ia tetap datang ke lokasi untuk memantau kondisi lapangan sebelum memutuskan bekerja atau menunda pekerjaan.
Risiko Tinggi dan Perlindungan yang Dipertanyakan
Pengamat ketenagakerjaan Timboel Siregar menilai profesi pembersih kaca gedung tinggi merupakan pekerjaan dengan risiko tinggi yang seharusnya mendapatkan perlindungan ketat dari perusahaan maupun pemerintah.
Ia menyampaikan, seluruh pekerja, termasuk yang berstatus freelance, tetap wajib mendapatkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan dan alat pelindung diri.
"Freelance juga bukan berarti tanpa perlindungan, harus dilindungi," ujar Timboel, Pengamat Ketenagakerjaan.
Ia mengatakan, perusahaan tidak bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab keselamatan kepada pekerja, termasuk soal pembelian alat keselamatan secara mandiri.
"That’s enggak boleh. Dia tetap harus dinaungi bahwa si pekerja itu dijamin oleh perusahaan," kata Timboel, Pengamat Ketenagakerjaan.
Menurut dia, pekerjaan rope access membutuhkan keterampilan dan sertifikasi khusus sehingga tidak bisa dilakukan hanya bermodal keberanian.
"Dia harus punya skill, punya sertifikat," ujarnya Timboel, Pengamat Ketenagakerjaan.
Timboel menilai pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap perusahaan maupun pengelola gedung yang menggunakan jasa pekerja rope access.
Selain memastikan penggunaan alat keselamatan, pemerintah juga perlu memastikan pekerja memiliki pengalaman dan sertifikasi yang sesuai.
"Pekerja itu harus diselamatkan saat bekerja," kata Timboel, Pengamat Ketenagakerjaan.
Sementara itu, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, melihat profesi pembersih kaca gedung tinggi sebagai gambaran ketimpangan sosial di kota besar.
Ia menilai para pekerja tersebut menjaga simbol kemewahan kota seperti gedung perkantoran dan apartemen elite, tetapi sering kali berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.
"Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pembangunan perkotaan modern sering bergantung pada tenaga kerja yang tidak terlihat," ujar Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.
Ia menilai profesi pembersih kaca gedung tinggi kerap dianggap pekerjaan teknis biasa sehingga kurang mendapatkan apresiasi publik.
Padahal, pekerjaan tersebut membutuhkan keberanian, keterampilan teknis, dan disiplin tinggi.
"Masyarakat kota cenderung hanya menikmati hasil kerja mereka, gedung yang bersih dan indah, tanpa menyadari risiko fisik dan mental yang dihadapi para pekerja," kata Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.
Menurut Rakhmat, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan besar seseorang memilih pekerjaan dengan risiko tinggi.
"Tekanan ekonomi dapat membuat seseorang menempatkan keselamatan diri sebagai prioritas kedua dibanding kebutuhan hidup," ujar Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.
Karena itu, ia menilai perlindungan sosial dan penghargaan terhadap pekerja sektor berisiko tinggi perlu diperkuat.
"Pekerja tidak hanya dipandang sebagai alat produksi, tetapi juga manusia yang memiliki hak atas keselamatan, kesejahteraan, dan penghormatan sosial," kata Rakhmat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.