Senyum Muhammad Surdi nyaris tak lepas sejak awal wawancara. Dengan logat Banten yang masih kental, pria berusia 45 tahun itu menyapa hangat setiap jemaah yang naik dan turun dari bus Shalawat yang dikemudikannya.
Di tengah teriknya cuaca Makkah, Surdi tetap terlihat riang. Tangannya sigap membantu menurunkan barang bawaan milik jemaah, sambil tak berhenti mengingatkan para penumpangnya agar berhati-hati saat naik dan turun dari bus. Pria asal Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, itu sudah tinggal di Arab Saudi sejak 2015 sebagai mukimin. Sejak saat itu pula, ia rutin menjadi sopir bus Shalawat setiap musim haji.
"Alhamdulillah, dari 2015," ujar Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Awalnya, kehidupan di Arab Saudi tidak mudah baginya. Bahasa menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi. Belum lagi cuaca panas yang sangat berbeda dengan Indonesia. Surdi mengenang betapa beratnya masa-masa awal tersebut ketika ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang sepenuhnya asing.
"Dukanya, awal-awal pertama belum paham bahasa, jalan juga, ya gitu," kata Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Surdi juga sempat kesulitan beradaptasi dengan udara panas dan kering khas Arab Saudi, membuat tubuhnya cukup ringkih. Kondisi fisik yang menurun sempat menjadi kendala utama dalam menjalankan rutinitasnya sebagai pengemudi di tanah rantau.
"Pertama kali dulu sakit-sakitan terus, kadang-kadang batuk, soalnya panas, kan beda (cuacanya)," kenang Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Menaklukkan Cuaca dan Meraih Berkah
Namun, setelah bertahun-tahun tinggal di sana, Surdi kini mulai terbiasa dengan kondisi cuaca ekstrem. Bahkan menurutnya, musim haji tahun ini sebenarnya terasa lebih sejuk dibanding sebelumnya. Pengalaman panjang telah membentuk ketahanan fisiknya di bawah matahari gurun.
"Tapi tahun ini, hajian yang ini, adem sekarang, Alhamdulillah," kata Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Di balik pekerjaannya sebagai sopir bus Shalawat yang mengantar jemaah menuju Masjidil Haram, Surdi menyimpan kebahagiaan tersendiri karena bisa membantu sesama orang Indonesia selama berada di Tanah Suci. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian kepada tamu Allah.
"Senangnya ya ini, melayani jemaah Indonesia," ujar Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Pekerjaan itu pula yang memberinya keberkahan berupa kesempatan menunaikan ibadah haji berkali-kali. Tinggal di Arab Saudi dengan status legal memberikan akses ibadah yang mungkin sulit didapatkan oleh orang lain secara berulang.
"Saya mungkin udah 10 tahun mungkin, alhamdulillah bisa empat kali haji," ucap Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Komitmen Pelayanan 24 Jam
Sebagai pekerja syarikah, Surdi memiliki dokumen lengkap untuk operasional haji, mulai dari tasreh hingga Kartu Nusuk. Hal ini membuatnya tenang dalam bekerja sekaligus menjalankan ibadah di sela-sela waktu tugasnya.
"Kalau mau hajian, saya tinggal hajian," ujar Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Setiap hari selama musim haji, Surdi bekerja mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan sebaliknya. Ia memahami banyak jemaah khawatir dengan jarak pemondokan yang cukup jauh. Namun ia menghibur para jemaah dengan mengingatkan bahwa layanan bus Shalawat siaga sepanjang hari demi kenyamanan seluruh tamu Allah.
"Jemaah Indonesia jangan khawatir, walaupun jauh tempat menginapnya, tapi kan pelayanannya 24 jam," kata Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Ia sendiri bekerja mulai siang hingga malam demi memastikan jemaah tetap bisa beribadah dengan nyaman. Dedikasi ini ia tunjukkan dengan tetap bersiaga di balik kemudi meski rasa lelah melanda.
"Saya kerja dari jam 11 siang sampai malam," ujar Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Pria berusia 45 tahun ini juga mengingatkan jemaah agar menjaga kondisi tubuh selama berada di Arab Saudi, terutama dengan memperbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi. Pesan ini selalu ia sampaikan kepada setiap penumpang yang ia temui di dalam bus.
"Biar jemaah tetap bugar staminanya harus minum yang banyak," pesan Surdi, Sopir Bus Shalawat.
Meski sudah lama tinggal di Arab Saudi, kerinduan terhadap kampung halaman tetap dirasakan Surdi. Setelah musim haji selesai dan seluruh jemaah pulang ke Indonesia, Surdi juga berencana kembali ke tanah kelahirannya untuk melepas rindu.
"Insyaallah, pulang habis hajian ini. Kalau jemaah semuanya sudah beres, mereka pulang, saya juga pulang," tutup Surdi, Sopir Bus Shalawat.