Sosok Ummu Aiman memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam sejarah Islam sebagai figur yang mendampingi Nabi Muhammad melintasi berbagai fase kehidupan. Dilansir dari Cahaya, beliau bukan sekadar pengasuh, melainkan sosok yang oleh Rasulullah sendiri disebut sebagai "ibuku setelah ibuku".
Perjalanan hidupnya membentang dari masa jahiliah, era kenabian, hingga permulaan kekhalifahan. Keteguhan iman dan pengorbanannya menjadi potret cinta yang mendalam terhadap keluarga Nabi dan dakwah Islam di tengah tantangan zaman.
Lahir dengan nama Barkah binti Tsa'labah, perempuan keturunan Habasyah ini awalnya merupakan bagian dari keluarga Bani Hasyim di Makkah. Ia bertugas mendampingi Aminah binti Wahab sejak masa awal pernikahannya dengan Abdullah bin Abdul Muthalib.
Menurut Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat al-Kubra, Barkah menyaksikan langsung berbagai tanda kebesaran saat kelahiran Nabi Muhammad. Kesetiaannya membuatnya menjadi salah satu orang pertama yang menyambut kehadiran bayi yang kelak mengubah sejarah dunia tersebut.
Peran Vital Mengasuh Nabi di Masa Yatim
Peran Ummu Aiman menjadi krusial saat Nabi Muhammad kehilangan kedua orang tuanya di usia sangat muda. Ia merawat dan menjaga keselamatan Nabi kecil, terutama saat perjalanan pulang dari Yatsrib menuju Makkah setelah wafatnya Aminah.
Meskipun pengasuhan secara formal beralih kepada kakek dan paman Nabi, Ummu Aiman tetap menjadi sosok yang tak terpisahkan dari keseharian beliau. Dalam Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah karya Ibnu Hajar, Rasulullah sering mengenangnya sebagai sisa anggota keluarganya yang paling beliau kasihi.
Penghormatan dan Pernikahan dalam Lingkaran Kenabian
Rasulullah memerdekakan Ummu Aiman tepat saat beliau melangsungkan pernikahan dengan Khadijah binti Khuwailid. Meski statusnya berubah, hubungan emosional antara keduanya justru semakin kuat karena rasa hormat yang mendalam dari Nabi.
"Dia adalah ibuku setelah ibuku," ujar Rasulullah saat memperkenalkan Ummu Aiman kepada Khadijah. Atas dorongan Nabi, ia kemudian menikah dengan Ubaid bin Zaid dan melahirkan seorang putra bernama Aiman, yang menjadi asal-usul panggilannya.
Keimanan di Masa Dakwah dan Generasi Pejuang
Ummu Aiman termasuk dalam kelompok as-sabiqunal awwalun atau golongan awal yang menerima Islam saat wahyu pertama turun. Ia terlibat aktif membantu dakwah secara sembunyi-sembunyi, bahkan berani menembus blokade kaum Quraisy untuk berkomunikasi dengan Nabi.
Setelah suaminya wafat, ia menikah dengan Zaid bin Haritsah atas anjuran Rasulullah. Dari pernikahan kedua ini, lahir Usamah bin Zaid, panglima muda yang sangat dicintai oleh Nabi dan menjadi simbol dedikasi total keluarga tersebut bagi Islam.
Keberanian di Medan Perang dan Kedalaman Spiritual
Pengabdian Ummu Aiman meluas hingga ke medan pertempuran, termasuk saat Perang Uhud dan Khaybar. Ia bertugas memberikan air bagi para prajurit serta merawat luka-luka pasukan di tengah situasi yang penuh risiko.
Riwayat dalam Ath-Thabaqat al-Kubra mencatat bahwa ia tetap teguh meski sempat terluka akibat serangan panah. Ketegarannya juga teruji saat suaminya, Zaid, gugur di Perang Mu’tah, serta putranya Aiman yang juga syahid dalam perjuangan dakwah.
Wafatnya Nabi dan Warisan Riwayat Hadis
Kepergian Nabi Muhammad pada tahun 11 Hijriah meninggalkan duka mendalam bagi Ummu Aiman. Saat dikunjungi oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, ia mengungkapkan tangisan kesedihan karena terputusnya wahyu dari langit.
Selain peran sejarahnya, Ummu Aiman merupakan perawi hadis yang riwayatnya tercatat dalam kitab Shahih Muslim, Musnad Ahmad, dan Sunan Abu Dawud. Menurut Imam Suyuthi, riwayat darinya mencakup berbagai detail kehidupan rumah tangga dan memori kolektif penting bagi umat Islam.