AS Klaim Gencatan Senjata Berlanjut Meski Iran Serang Selat Hormuz

AS Klaim Gencatan Senjata Berlanjut Meski Iran Serang Selat Hormuz

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan status gencatan senjata masih berlaku di kawasan Selat Hormuz pada Selasa (5/5/2026), meskipun Washington menuduh Iran melakukan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di perairan strategis tersebut dan negara tetangga pada Senin (4/5/2026).

Pemerintah Amerika Serikat terus memantau situasi di lapangan secara intensif demi memastikan stabilitas jalur perdagangan dunia tersebut. Hegseth memisahkan antara proyek pengawalan kapal komersial dengan tindakan militer terhadap Iran.

"Jadi saat ini gencatan senjata memang berlaku, tetapi kami akan mengawasinya dengan sangat, sangat cermat," kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS sebagaimana dilansir dari The Wall Street Journal.

Pihak Pentagon telah mengantisipasi adanya gangguan keamanan pada fase awal pengamanan jalur pelayaran. Penegasan mengenai kesiapan militer pun disampaikan sebagai peringatan bagi Teheran agar tidak mengabaikan kehadiran kekuatan Amerika Serikat di wilayah itu.

"Pada akhirnya ini adalah proyek yang terpisah dan berbeda. Kami memperkirakan akan ada beberapa gejolak di awal, yang memang terjadi," ujar Pete Hegseth.

Kesiagaan penuh armada Amerika Serikat diklaim telah ditunjukkan melalui respons agresif di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan navigasi internasional tetap terjaga di tengah tensi yang meninggi.

"Kami mengatakan bahwa kami akan membela dan membela secara agresif, dan kami benar-benar telah melakukannya. Iran tahu itu," sambung Pete Hegseth.

Berdasarkan catatan Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, militer Iran tercatat telah melakukan sembilan kali penembakan terhadap kapal komersial dan menyita dua kapal kontainer sejak masa gencatan senjata dimulai. Pasukan militer AS juga dilaporkan mengalami lebih dari 10 kali serangan di periode yang sama.

"Iran telah menembaki kapal-kapal komersial sebanyak sembilan kali, menyita dua kapal kontainer, dan menyerang pasukan militer AS lebih dari 10 kali sejak gencatan senjata dimulai," kata Dan Caine, Kepala Staf Gabungan AS.

Meskipun terjadi rentetan insiden tersebut, Jenderal Caine menilai aktivitas militer Iran belum mencapai skala yang mengharuskan Amerika Serikat untuk memulai kembali operasi tempur besar-besaran secara resmi.

"Tindakan-tindakan tersebut semuanya berada di bawah ambang batas untuk memulai kembali operasi tempur besar-besaran saat ini," tambah Dan Caine sebagaimana dikutip dari AFP.

Kesiapan pasukan AS untuk melakukan serangan balasan tetap dipertahankan sambil menunggu instruksi lebih lanjut dari otoritas tertinggi di Washington. Pengendalian diri yang ditunjukkan saat ini diklaim bukan merupakan tanda pelemahan militer.

"Tidak ada musuh yang boleh salah mengartikan sikap menahan diri kita saat ini sebagai kurangnya tekad," tutur Dan Caine.

Di sisi lain, Hegseth menekankan pentingnya pengamanan jalur air internasional ini bagi kepentingan global. Ia mendorong keterlibatan lebih aktif dari negara-negara sekutu untuk bersama-sama menjaga kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz.

"Pada akhirnya, jalur air ini, seperti yang saya katakan, jauh lebih penting bagi seluruh dunia, dan mereka perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankannya," jelas Pete Hegseth.

Menteri Pertahanan tersebut turut mengkritik beberapa negara mitra seperti Korea Selatan, Jepang, Australia, serta negara-negara di Eropa karena dianggap kurang berkontribusi dalam upaya pengamanan perairan tersebut. Meski begitu, AS tetap menjalankan operasinya tanpa harus menunggu bantuan pihak lain.

"Kami berharap Korea Selatan akan meningkatkan upayanya, sama seperti kami berharap Jepang akan meningkatkan upayanya, sama seperti kami berharap Australia akan meningkatkan upayanya, sama seperti kami berharap Eropa akan meningkatkan upayanya," ujar Pete Hegseth.

Kepemimpinan Amerika Serikat dianggap krusial dalam menstabilkan kawasan sampai tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen dengan pihak Iran. Washington saat ini masih berfokus pada pertahanan agresif di jalur laut strategis tersebut.

"Tetapi kami tidak menunggu mereka melakukannya," lanjut Pete Hegseth.

Artikel terkait

Rekomendasi