KLH Edukasi 120 Pelajar di TWA Angke Kapuk Melalui Program IBSAP

KLH Edukasi 120 Pelajar di TWA Angke Kapuk Melalui Program IBSAP

Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggandeng ratusan siswa untuk mengikuti program edukasi lapangan. Kegiatan yang berlangsung di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Jakarta Utara, ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026, seperti dikutip dari Suara.

Agenda edukatif tersebut diinisiasi bersama The International Climate Initiative (IKI) serta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Langkah ini bertujuan memperluas literasi lingkungan sekaligus memperdalam pemahaman generasi muda terkait pentingnya menjaga kelestarian hayati.

Sebanyak 120 peserta yang terdiri dari siswa beserta guru pendamping dari berbagai SMA dan SMK di Jakarta turut ambil bagian. Sekolah yang terlibat meliputi SMAN 8 Jakarta, SMAN 78 Jakarta, SMAN 34 Jakarta, SMA 112 Jakarta, SMK Yadika 2, hingga SMA Islam Islamic Village.

Pemilihan TWA Angke Kapuk didasari oleh status kawasan tersebut sebagai salah satu ekosistem mangrove perkotaan yang krusial. Hutan bakau ini memegang peran vital dalam memelihara keseimbangan lingkungan di wilayah pesisir Jakarta.

Selama kegiatan berjalan, para pelajar diperkenalkan pada ragam flora dan fauna pesisir. Mereka juga mempelajari peran penting mangrove dalam menangkal abrasi serta efektivitas ekosistem tersebut dalam menghadapi dampak perubahan iklim global.

Program ini berjalan selaras dengan penerapan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045. Khususnya dalam mendorong literasi lingkungan dan mencetak generasi muda menjadi pionir konservasi keanekaragaman hayati masa depan.

Pihak KLH menegaskan bahwa penanaman kesadaran lingkungan idealnya dimulai sejak dini. Pendekatan eksperimental atau pengalaman langsung di lapangan dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar teori agar siswa memahami urgensi perlindungan ekosistem secara nyata.

Lead Communication Unit for Resilient Nature Cooperation Area GIZ Indonesia, Gandabhaskara Saputra, memaparkan bahwa kegiatan di TWA Angke Kapuk ini menjadi puncak dari rangkaian perayaan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang digarap bersama KLH.

"Kegiatan di TWA Angke Kapuk ini merupakan penutup dari peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional hasil kerja sama GIZ dan Kementerian Lingkungan Hidup dengan memberikan pengalaman dan edukasi pentingnya keanekaragaman hayati bagi generasi muda langsung di lapangan sebagai frontliners menjaga keberlanjutan lingkungan hidup," ujarnya.

Melalui pembelajaran interaktif tersebut, seluruh peserta memperoleh wawasan praktis yang membantu mereka memahami fungsi dari ekosistem hutan payau sekaligus pentingnya melakukan konservasi alam.

Salah satu siswa SMK Yadika 2, Vincent Suhardo, menyatakan dirinya mendapatkan banyak pengetahuan baru seputar manfaat nyata dari tanaman mangrove bagi kelangsungan wilayah pesisir.

"Saya jadi bisa paham soal mangrove yang sebelumnya saya tidak tahu. Saya belajar bahwa mangrove bisa mencegah abrasi, menghadapi perubahan cuaca, dan mampu hidup di tanah berlumpur," katanya.

Pendapat senada dituturkan oleh Dhistie Aderusla, seorang siswi dari SMA 112 Jakarta. Ia mengaku kini lebih memahami bermacam-macam tipe mangrove dan mendalami esensi dari perlindungan ekosistem pantai.

KLH berharap sinergi dengan bermacam elemen, termasuk mitra pembangunan global dan institusi pendidikan, dapat terus memperluas kepedulian lingkungan di kalangan generasi muda serta memicu lahirnya agen perubahan untuk keanekaragaman hayati Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi