Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengungkapkan hambatan teknis dalam mengakses data digital untuk menyelidiki kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada 27 April 2026. Kendala ini menyebabkan lembaga tersebut belum bisa mengumumkan penyebab pasti peristiwa tragis tersebut.
Dilansir dari Nasional, proses pengumpulan data di lapangan masih terus berjalan guna meninjau berbagai aspek teknis perjalanan. Soerjanto menjelaskan bahwa kerumitan akses data digital menjadi faktor utama yang memengaruhi kecepatan durasi investigasi saat ini.
"Kalau gampang bukanya ya cepat, tapi kadang-kadang kan digital itu juga susah," kata Soerjanto, Ketua KNKT.
Petugas di lapangan kini tengah melakukan serangkaian pengujian mendalam pada sistem persinyalan dan jalur perlintasan. Selain itu, aspek komunikasi selama perjalanan kereta juga menjadi fokus pemeriksaan tim ahli untuk melengkapi berkas penyelidikan.
"Jadi kami masih dalam tahap pengumpulan data-data di lapangan dan masih ada beberapa tes yang harus kami lakukan di persinyalan, di lintas, kemudian komunikasi seperti apa," ungkap Soerjanto, Ketua KNKT.
Tim investigasi juga merencanakan pemanggilan sejumlah saksi untuk memperjelas kronologi kejadian di lokasi. Namun, penentuan siapa saja yang akan diperiksa masih menunggu hasil pembedahan data dari perangkat perekam yang tersedia.
"Tergantung dari kan kita buka di kereta itu ada CCTV, ada yang pakai data semacam blackbox-nya dan nanti tergantung dari hasil evaluasi dari data-data tersebut apakah kita perlu minta konfirmasi atau keterangan lebih lanjut dari orang-orang yang berkaitan dengan masalah tersebut," kata Soerjanto, Ketua KNKT.
Selain perangkat dari kereta, KNKT sedang berupaya mengunduh data digital dari sebuah taksi yang turut terlibat dalam insiden di Bekasi Timur tersebut. Data dari kendaraan itu dipandang krusial untuk mengklarifikasi keterangan dari pengemudi serta saksi mata di area kejadian.
"Sebagian data sudah kami peroleh tapi kami juga perlu mengklarifikasi lagi dengan pengemudinya, nanti kalau data yang di mobil taksi itu kan ada blackbox-nya juga. Ini lagi kita unduh nanti setelah kita evaluasi dan nanti kita akan bertanya lagi kepada pengemudinya ataupun orang-orang di sekitarnya apa yang terjadi di taksi green taksi tadi," tutur Soerjanto, Ketua KNKT.
Pihak KNKT memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam peristiwa ini karena dinilai sangat membantu jalannya penyelidikan. Semua informasi yang dibutuhkan sejauh ini dapat diakses tanpa hambatan komunikasi dari pihak terkait.
"Kooperatif, enggak ada halangan kalau kita minta keterangan," tegas Soerjanto, Ketua KNKT.
Mengenai batas waktu penyelesaian laporan akhir, pihak berwenang mengaku tidak ingin terburu-buru demi akurasi data. Target waktu belum bisa ditetapkan selama beberapa komponen data elektronik masih terkunci.
"Kami belum bisa tentukan karena masih ada data-data yang belum bisa kita buka," ujar Soerjanto, Ketua KNKT.
Tujuan utama dari penyelidikan ini adalah untuk menghasilkan perbaikan sistem di masa depan demi keamanan penumpang. Fokus tim sepenuhnya diarahkan pada penemuan akar masalah teknis dan operasional.
"Kita enggak cari mengarah ke siapa tapi kita apa penyebab dari kecelakaan dan hasilnya adalah rekomendasi untuk keselamatan," pungkas Soerjanto, Ketua KNKT.
Di sisi lain, lamanya proses investigasi ini memicu kritik dari pihak legislatif dalam rapat kerja yang digelar pada Rabu (13/5/2026). Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menilai bahwa semua instrumen fisik seharusnya mempermudah KNKT untuk bekerja lebih cepat.
"Pak KNKT kita berharap, Pak. karena alasan Pak Menteri (Perhubungan) ini karena hasil investigasi KNKT belum selesai, saya juga bingung Bapak kok lama banget investigasi ini," ujar Lasarus, Ketua Komisi V DPR RI.
Lasarus juga membandingkan kerumitan ini dengan evakuasi pesawat terbang yang membutuhkan pencarian alat khusus di dasar laut atau lokasi ekstrem. Menurutnya, bukti-bukti pada kecelakaan kereta ini tersedia di tempat kejadian dan bisa diamati secara langsung.
"Ini kan bukan pesawat yang meledak itu semua ada di situ kok pak instrumennya semuanya ada orangnya ada ya kan? Semua ya bisa tanpa peralatan khusus lah ini semua secara kasat mata bisa dilihat enggak perlu cari kotak hitam juga," kata Lasarus, Ketua Komisi V DPR RI.
Peristiwa ini bermula saat KRL jurusan Cikarang bernomor PLB 5568A bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920. Insiden yang terjadi pada Senin malam pukul 20.52 WIB tersebut memakan total korban sebanyak 106 orang, dengan rincian 16 jiwa meninggal dunia dan 90 orang mengalami luka-luka.