Kementerian Perhubungan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur kepada Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Peristiwa yang mengakibatkan 16 korban jiwa tersebut terjadi setelah KA Argo Bromo Anggrek diduga menerima sinyal hijau sebelum menabrak KRL Commuter Line, seperti dilansir dari Nasional.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa pendalaman insiden tersebut saat ini masih terus dilakukan secara intensif.
"Itu kita serahkan kepada KNKT ya untuk hasil dan investigasinya," kata Dudy di PTIK, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Dudy menambahkan, proses pemeriksaan dari pihak Kemenhub masih berjalan karena terdapat sejumlah poin krusial yang memerlukan penelaahan lebih lanjut.
"Masih berlangsung. Karena ada beberapa hal juga yang masih kami didalami," ucapnya.
Selain KNKT, pihak kepolisian kini turut dilibatkan dalam melakukan penyidikan karena adanya korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
"Because ada korban jiwa itu kepolisian juga sudah melakukan penyidikan, nah itu kami juga serahkan ke kepolisian untuk penyidikannya," ungkap dia.
Sebelumnya, KNKT memaparkan bahwa KA Argo Bromo Anggrek tetap memperoleh aspek sinyal berwarna hijau walau ada insiden KRL yang tertemper mobil taksi di perlintasan sebidang.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjabarkan, tabrakan antara KA 5181 Commuter Line dengan mobil di JPL Bekasi Timur jalur hilir terjadi pukul 20.48.29 WIB.
Selang dua menit kemudian, tepatnya pukul 20.50.43 WIB, KA Argo Bromo Anggrek melintas langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan indikator sinyal keluar berwarna hijau.
“KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau atau berwarna hijau,” ujar Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).
Kondisi indikator persinyalan tersebut memicu pertanyaan dari Ketua Komisi V DPR RI Lasarus yang memimpin jalannya rapat kerja.
“Berarti kesimpulan yang didapat oleh KNKT waktu terjadi tabrakan antara kereta dengan mobil, terus bergeraklah kereta Argo Bromo Anggrek dan terjadilah menabrak kereta Commuter Line itu sinyalnya sudah hijau Pak ya?” tanya Lasarus.
Soerjanto membenarkan bahwa indikator persinyalan untuk KA Argo Bromo Anggrek saat kejadian memang menunjukkan warna hijau.
Lasarus kemudian memberikan tanggapan kritis mengenai keganjilan fungsi sistem pengaman persinyalan tersebut.
“Harusnya merah kan Pak ya? karena di depan ada obstacle,” ujar Lasarus.
Terkait tanggapan tersebut, Soerjanto menegaskan bahwa KNKT masih mengumpulkan data dan belum merilis kesimpulan akhir mengenai penyebab utama kecelakaan.
“Nanti kami jelaskan berikutnya,” kata dia.