KNKT Ungkap Kekeliruan Transmisi Sopir Taksi Sebelum Tabrakan Kereta

KNKT Ungkap Kekeliruan Transmisi Sopir Taksi Sebelum Tabrakan Kereta

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan kekeliruan fatal pengemudi taksi Green SM yang memindahkan transmisi mobil ke posisi netral (N) tepat sebelum kendaraan tersebut tertabrak kereta di Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Kecelakaan yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek, KRL, dan taksi tersebut terjadi pada Senin (27/4/2026), sebagaimana dilansir dari Nasional. Akibat posisi transmisi netral, taksi mati kutu di atas rel meski pedal gas diinjak dalam-dalam oleh pengemudi bernama Richard Rudolf Passelima.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjabarkan data dari rekaman onboard unit mengenai pergerakan taksi yang meluncur di jalur menurun menuju perlintasan sebidang dalam rapat Komisi V DPR di Senayan, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026).

"Nah ini apa yang terjadi dari data onboard unit kami download. Jadi taksi tersebut ketika menurun pada posisi D (drive) berjalan normal dengan kecepatan antara 15 km/jam. Kemudian kendaraan berpindah ke pada posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3-7 km/jam. Ini kami tidak tahu, kenapa kok diposisinetralkan," ujar Soerjanto.

Menurut penjelasan lanjutan, pengemudi tetap membiarkan mobil meluncur ke arah rel sembari melakukan pengereman ringan. Ketika taksi sudah berada di atas rel, pengemudi berusaha menyelamatkan situasi dengan menginjak pedal gas, namun posisi tuas transmisi tidak kunjung diubah dari posisi netral.

"Kemudian pengemudi membiarkan kendaraan meluncur sambil mengerem ringan di jalur menurun. Sesampainya di perlintasan sebidang, pengemudi berusaha menginjak gas sampai 25 persen, namun kendaraan pada posisi N dan tidak bergerak dan tetap meluncur," sambung Soerjanto.

Sopir taksi tersebut terekam sempat menambah injakan pedal gas hingga melewati paruh kapasitas maksimalnya. Namun, kepanikan diduga membuat tindakan penyelamatan yang diambil berikutnya menjadi tidak sinkron dengan injakan pedal gas.

"Pengemudi terus menekan gas hingga 51 persen, kendaraan tidak bergerak karena dalam posisi N, kecepatan menjadi 0. Selanjutnya pada 20.46.43, posisi handle di posisi D atau drive, tapi pengemudi tidak menginjak pedal gas," jelas Soerjanto.

Setelah melepas injakan gas saat tuas berada di posisi mengemudi (D), Richard justru memindahkan lagi transmisi ke posisi parkir (P). Mobil otomatis terkunci sepenuhnya dan gagal melaju dari jalur perlintasan kereta api.

"Selanjutnya handle berposisi pada P, di mana selanjutnya pengemudi menginjak gas, menginjak rem, menginjak on-off, on-off, tapi selalu dalam posisi P. Sehingga mobil tidak bisa bergerak," ucap Soerjanto.

Investigasi KNKT juga menemukan fakta bahwa Richard merupakan pekerja baru yang minim pengalaman serta pelatihan teknis terkait armada yang ia kemudikan. Richard baru bekerja selama tiga hari setelah direkrut oleh pihak Green SM lewat sebuah bursa kerja.

"Proses pengenalan kendaraan melalui kelas teori secara singkat. Pelatihan mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knob transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman, tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan atau penanganan sistem saat terjadinya error," kata Soerjanto.

Selain minimnya bekal edukasi penanganan masalah darurat, faktor visibilitas komponen di dalam kabin kemudi pada siang hari turut menjadi sorotan dalam investigasi KNKT. Pengemudi diketahui tidak familier dengan indikator armada.

"Knob lampu indikator pada saat siang hari susah dilihat. Pengemudi yang terlibat kecelakaan baru diterima melalui job fair dan baru bekerja 3 hari," imbuh Soerjanto.

Berdasarkan kesaksian Munir, salah satu penumpang Commuter Line, insiden ini bermula ketika KRL rute Bekasi-Jakarta yang ia tumpangi dari arah Jakarta menuju Cikarang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

Penahanan KRL tersebut dilakukan akibat adanya Commuter Line lain dari arah berlawanan (Cikarang menuju Bekasi) yang menabrak taksi Green SM kemudi Richard di perlintasan sebidang.

Sesaat setelah KRL yang ditumpangi Munir berhenti darurat, Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek meluncur dari arah belakang dan langsung menghantam gerbong Commuter Line tersebut. Tabrakan beruntun ini mengakibatkan kerusakan parah pada gerbong khusus perempuan.

Artikel terkait

Rekomendasi