Komunitas Vape Gelar Tes Urine Sukarela untuk Cegah Penyalahgunaan Narkoba

Komunitas Vape Gelar Tes Urine Sukarela untuk Cegah Penyalahgunaan Narkoba

Kemudahan memperoleh informasi mendorong masyarakat untuk sadar dan lebih selektif dalam memilih produk konsumsi sehari-hari. Hal ini juga terlihat pada konsumen rokok elektronik atau vaper yang mulai menunjukkan komitmen nyata terhadap konsumsi bertanggung jawab.

Dikutip dari Nasional, para vaper yang bergabung dalam berbagai komunitas mengambil langkah tegas untuk memastikan pilihan mereka bebas dari penyalahgunaan zat terlarang. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab sosial sesama pengguna.

Salah satu bukti nyata ditunjukkan oleh komunitas Therion DNA Indonesia yang menyelenggarakan kegiatan Halalbihalal Vapers dengan Therion DNA Indonesia di Bekasi. Agenda ini diikuti oleh lebih dari 50 konsumen vape.

Para peserta secara sukarela mengikuti tes urine untuk membuktikan bahwa mereka tidak menggunakan rokok elektronik sebagai sarana penyalahgunaan narkoba. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan seluruh peserta negatif dari berbagai zat narkotika.

Konselor Adiksi Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Bekasi Linda turut hadir dan menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyebutkan pemeriksaan laboratorium membuktikan tidak adanya indikasi penyalahgunaan narkotika oleh peserta yang menggunakan vape legal.

“Berdasarkan tes urine yang telah kita lakukan kepada 50 member (konsumen vape legal), berdasarkan pemeriksaan laboratorium terhadap beberapa golongan NAPZA, didapatkan hasil dari seluruh member yang sudah kita lakukan tes hasilnya negatif, dan tidak ditemukan tanda penggunaan NAPZA. Saya sangat antusias dan mengapresiasi. Mewakili dari BNK Kabupaten Bekasi, saya memberikan applause yang luar biasa untuk member vapers yang mendukung program pemerintah War on Drugs for Humanity,” ujar Linda.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK) Garindra Kartasasmita menilai kegiatan ini sebagai langkah penting. Menurutnya, aksi ini dapat meluruskan persepsi publik terhadap produk tembakau alternatif.

Edukasi mengenai produk tembakau alternatif dinilai harus terus diperkuat. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat luas tidak salah memahami produk yang sebenarnya memiliki risiko lebih rendah daripada rokok konvensional.

“Sebanyak 50 orang dites urine dan semua hasilnya negatif. Hasil ini luar biasa dan semoga bisa dilakukan juga di daerah lain. Kita tidak boleh berhenti mengedukasi masyarakat mengenai produk tembakau alternatif. Informasi yang beredar harus benar, bahwa produk ini bukan narkoba,” jelas Garindra.

Produk tembakau alternatif seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin disebut dapat menjadi pilihan bagi perokok dewasa. Pilihan ini dinilai membantu untuk beralih dari kebiasaan merokok karena profil risikonya lebih rendah.

Klaim mengenai profil risiko yang lebih rendah tersebut didasarkan pada berbagai kajian ilmiah. Penelitian ini sudah dibuktikan melalui studi yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.

Sementara itu, ketua pelaksana kegiatan sekaligus pengguna vape Enggar Dwi Pambudi menceritakan pengalamannya beralih ke rokok elektronik. Alasan utamanya adalah kenyamanan karena tidak meninggalkan bau pada pakaian dan lingkungan sekitar.

“Saya dulu sempat merokok, lalu beralih ke vape. Salah satu alasannya karena bau asap rokok. Vape ini tidak meninggalkan bau di pakaian atau tangan. Apalagi sekarang saya sudah berkeluarga, jadi lebih nyaman. Badan juga terasa lebih ringan,” kata Enggar.

Enggar menegaskan pentingnya bagi masyarakat untuk tidak menyamaratakan kasus penyalahgunaan dengan penggunaan vape secara umum. Adanya oknum yang menyalahgunakan rokok elektronik dinilai tidak merepresentasikan keseluruhan komunitas.

“Produk ilegal yang mengandung narkoba pasti bukan produk legal yang berpita cukai. Justru kami mendukung pengawasan ketat agar produk tembakau alternatif tidak disalahgunakan atau dicampur dengan zat terlarang,” ujar Enggar.

Artikel terkait

Rekomendasi