Ketua PBNU Ungkap Faktor Karakter Picu Konflik Internal Organisasi

Ketua PBNU Ungkap Faktor Karakter Picu Konflik Internal Organisasi

Perselisihan di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mencuat ke publik akibat adanya perbedaan karakter yang dominan di antara para pemimpin tertinggi organisasi tersebut, selain adanya faktor eksternal lain. Informasi mengenai dinamika internal ini dilansir dari Nasional pada Senin (18/5/2026).

Ketua PBNU Mohamad Syafi' Alielha atau Savic Ali membenarkan keberadaan faktor konsesi tambang sebagai pemantik ketegangan. Kendati demikian, penegasan diberikan bahwa urusan tersebut bukan menjadi penyebab utama dari perselisihan yang sedang berlangsung.

"Saya kira bukan (alasan satu-satunya), bahwa ada faktor tambang, iya, oke ada faktor tambang," kata Ketua PBNU, Mohamad Syafi' Alielha.

Kondisi ini diperparah oleh banyaknya pihak yang berminat menjalin kemitraan dengan organisasi dalam mengelola wilayah tambang tersebut. Hal itu memicu rasa kurang nyaman dari Sekretaris PBNU Saifullah Yusuf selaku bagian dari kubu Rais Aam Miftachul Akhyar terhadap pihak luar yang mendekat.

"Tapi mungkin ada insecurity karena ada pihak-pihak lain yang pada dasarnya juga bukan mau mengambil alih menawarkan diri untuk jadi partner," sambung Ketua PBNU, Mohamad Syafi' Alielha.

Manajemen operasional dari konsesi ini memang melibatkan banyak sektor turunan yang bernilai strategis. Savic Ali kemudian merinci kompleksitas pengelolaan yang berpotensi memicu ketegangan sektoral tersebut.

"Urusan ABC kan itu kalau jalan urusannya banyak gitu-gitu kan ada urusan yang manajemen, ada urusan infrastruktur, ada urusan transportasi, ada urusan ya macam-macam lah gitu-gitu," kata Ketua PBNU, Mohamad Syafi' Alielha.

Persoalan tambang dinilai bernilai kecil jika dibandingkan dengan benturan karakter antara Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Perbedaan prinsipil inilah yang memicu munculnya mosi atau desakan agar dilakukan pergantian pucuk pimpinan tertinggi kepengurusan.

"Ada faktor karakter," kata Ketua PBNU, Mohamad Syafi' Alielha.

Ketidakcocokan kepribadian ini berujung pada munculnya krisis kepercayaan dari Rais Aam terhadap Ketua Umum PBNU. Gaya kepemimpinan Gus Yahya yang mengedepankan pertimbangan rasional dinilai bertolak belakang dengan tradisi kepatuhan mutlak yang dipegang teguh oleh kelompok tua.

"Mungkin Rais Aam itu saya kira tipe orang tua kami yang ibaranya memang 'anak itu harus nurut orang tua', Rais Aam saya kira berkali-kali bicara bahwa ya harus sami'na wa atho'na (dengarkan dan patuhi)," pungkas Ketua PBNU, Mohamad Syafi' Alielha.

Artikel terkait

Rekomendasi