Kasus dugaan pungutan liar dan pemerasan dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) yang menyeret Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Silmy Karim, sebagai tersangka mengguncang publik Indonesia.
Seperti diberitakan oleh Suara, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap bahwa tersangka diduga menyamarkan aliran dana haram hasil kejahatan tersebut yang bernilai nominal mencapai Rp145,5 miliiar.
KPK membeberkan bahwa Silmy Karim menggunakan puluhan rekening atas nama orang lain, mulai dari lingkungan keluarga, kerabat, hingga menyasar identitas pekerja berpenghasilan rendah seperti office boy (OB) dan cleaning service.
Penggunaan identitas pekerja berpenghasilan rendah tersebut berfungsi sebagai "wajah bersih". Strategi ini diterapkan untuk mengelabui aparat penegak hukum sekaligus mempersulit pelacakan transaksi keuangan.
Secara logika hukum, pihak berwenang tidak akan menaruh curiga pada aktivitas transaksi harian di rekening seorang pekerja kecil. Padahal, akun-akun tersebut menampung aliran dana hasil pemerasan.
Dalam teori pencucian uang, metode memecah aliran uang ke puluhan rekening berbeda ini dikenal dengan istilah layering. Tujuan utamanya adalah untuk membuat jejak audit menjadi rumit dan sulit untuk dilacak.
Modus penyamaran uang haram dengan memanfaatkan pihak lain sebagai tameng ini dinilai memiliki kemiripan dengan alur cerita dalam film Crime-Comedy Thriller Amerika Serikat berjudul The Kill Room (2023).
Film yang disutradarai oleh Nicol Paone serta dibintangi oleh Uma Thurman, Samuel L. Jackson, dan Joe Manganiello tersebut menggambarkan bagaimana dunia seni rupa di New York dijadikan instrumen pencucian uang oleh kelompok mafia.
Dalam sinopsisnya, tokoh Gordon memanfaatkan galeri seni milik Patrice yang sedang terlilit utang sebagai wajah bersih. Karakter pembunuh bayaran bernama Reggie kemudian diminta membuat lukisan acak yang dinamai "The Bagman".
Karya seni yang dinilai subjektif tersebut lalu dijual dengan harga selangit mencapai 300,000 dolar. Langkah ini diambil demi memindahkan uang mafia ke tangan yang terlihat sah tanpa memicu kecurigaan dari otoritas berwenang.
Strategi dalam film tersebut serupa dengan tindakan memutar uang melalui aset yang nilainya subjektif agar harga mahal tidak lagi dipertanyakan, mirip dengan pola pemecahan rekening yang diduga dilakukan dalam kasus korupsi ini.