Krisis Ekonomi Batasi Tradisi Idul Adha 2026 di Jalur Gaza

Krisis Ekonomi Batasi Tradisi Idul Adha 2026 di Jalur Gaza

Sebagian besar masyarakat di Jalur Gaza terpaksa melewati perayaan Idul Adha 2026 tanpa melaksanakan tradisi penyembelihan hewan kurban akibat krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Dilansir dari Cahaya, blokade ketat dan dampak perang memicu kelangkaan pasokan ternak yang membuat harga melonjak drastis di wilayah tersebut.

Situasi sulit ini menjadi tahun ketiga secara berturut-turut bagi penduduk setempat merayakan hari raya keagamaan dalam kondisi yang memprihatinkan. Kenaikan harga komoditas utama dan hilangnya sumber pendapatan membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, apalagi membeli hewan kurban.

Penderitaan mendalam dirasakan oleh salah satu warga Gaza, Ahmed Nashwan, yang kini hanya bisa mengenang kebahagiaan perayaan hari raya bersama keluarga di masa lalu sebelum peperangan melanda tempat tinggal mereka.

"Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami," kata Nashwan kepada Xinhua.

Pria tersebut biasanya mengunjungi pasar ternak bersama saudara laki-laki dan anak-anaknya untuk memilih hewan jantan terbaik sebelum dibagikan kepada kerabat dekat yang membutuhkan.

"Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin," lanjutnya.

Kini, kondisi di lapangan memaksa masyarakat untuk berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan harian yang semakin menipis.

"Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan karena tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, dan sebagian besar orang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari," kata Nashwan.

Pembatasan ketat arus logistik oleh pihak Israel pasca-gencatan senjata Oktober 2025 memperparah kelangkaan pasokan domba dan anak sapi. Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengungkapkan harga komoditas ternak melonjak dari semula 500 dolar AS menjadi sekitar 6.000 hingga 7.000 dolar AS per ekor.

Keluhan serupa disampaikan oleh Mohammed al-Hissi, seorang ayah empat anak asal Gaza City, yang melihat tradisi berpakaian baru dan saling mengunjungi setelah berkurban kini sirna.

"Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging," katanya.

Faktor keterpurukan ekonomi dan hancurnya infrastruktur tempat tinggal menjadi alasan utama masyarakat mengalihkan prioritas keuangan mereka.

"Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza," jelasnya.

Ketiadaan pendapatan bulanan memaksa mayoritas kepala keluarga mengubur dalam-dalam keinginan membeli hewan ternak.

"Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka."

Di wilayah Khan Younis, seorang pemuda bernama Mohammed Shallah harus merayakan Idul Adha di dekat makam ayahnya yang menjadi korban serangan udara.

"Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban," kata Shallah kepada Xinhua.

Pemuda berusia 22 tahun tersebut kini mengaku pasrah karena keterbatasan ekonomi yang ia hadapi saat ini.

"Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal," katanya.

Ia menegaskan ketidakmampuannya dalam melanjutkan tradisi yang biasa dipimpin oleh mendiang ayahnya tersebut.

"Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali," ujarnya.

Menurut pedagang ternak setempat, Salah Afana, angka permintaan pasar mengalami penurunan drastis karena kemiskinan masif, ditambah banyaknya hewan peliharaan yang mati akibat serangan udara dan minimnya pakan.

"Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan," tambahnya.

Data dari juru bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, menunjukkan bahwa sebelum konflik, wilayahnya rutin mengimpor hingga 20.000 anak sapi dan 40.000 domba menjelang Idul Adha.

"Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total," kata Asaliya kepada Xinhua.

Ketiadaan akses logistik ini diperparah dengan hancurnya fasilitas peternakan dan gudang penyimpanan pakan di sepanjang perbatasan.

Menurut al-Tabbaa, kehancuran area agrikultur di sisi timur melengkapi penderitaan panjang masyarakat yang kehilangan hak berkurban.

"Penduduk Gaza telah kehilangan akses terhadap hewan kurban selama tiga tahun berturut-turut. Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi