Krisis Kelaparan Ekstrem Memaksa Para Ayah di Afghanistan Jual Anak

Krisis Kelaparan Ekstrem Memaksa Para Ayah di Afghanistan Jual Anak

Krisis ekonomi dan kelaparan ekstrem di Provinsi Ghor, Afghanistan, memaksa sejumlah kepala keluarga mengambil keputusan tragis dengan menjual anak kandung mereka demi kelangsungan hidup anggota keluarga yang lain pada Mei 2026. Laporan PBB menunjukkan tiga perempat populasi negara tersebut kini tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok akibat kemiskinan akut dan pengangguran.

Badan dunia tersebut mencatat sekitar 4,7 million jiwa atau lebih dari sepersepuluh populasi Afghanistan kini berada selangkah lagi menuju kelaparan massal. Situasi ini diperparah oleh pemotongan bantuan kemanusiaan global hingga 70 persen dibandingkan tahun 2025, termasuk dari donor utama seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Abdul Rashid Azimi, seorang ayah dari anak kembar berusia tujuh tahun di wilayah perbukitan Ghor, menyatakan terpaksa bersiap melepas anak gadisnya untuk dinikahkan atau menjadi pembantu rumah tangga karena terlilit utang.

"Saya bersedia menjual putri-putri saya," kata Abdul Rashid Azimi sambil menangis.

Abdul Rashid Azimi menambahkan bahwa dirinya selalu pulang kerja dalam kondisi tertekan dan bingung karena tidak mendapatkan penghasilan sama sekali untuk membeli makanan.

"Saya miskin, terlilit utang, dan tidak berdaya. Saya pulang dari kerja dengan bibir kering, lapar, haus, tertekan, dan bingung. Anak-anak saya datang kepada saya mengatakan 'Baba, beri kami roti'. Tapi apa yang bisa saya berikan? Di mana pekerjaan itu?" ujar Abdul Rashid Azimi.

Dirinya menjelaskan bahwa hasil penjualan satu anak dapat menyambung hidup keluarga yang lain dalam jangka panjang.

"Jika saya menjual satu anak, uangnya bisa menghidupi anak-anak saya yang lain setidaknya untuk empat tahun ke depan," ungkap Abdul Rashid Azimi.

Kisah pilu lain datang dari Saeed Ahmad yang terpaksa menjual putrinya yang berusia lima tahun, Shaiqa, demi melunasi biaya operasi medis darurat sebesar 200.000 Afghani.

"Saya tidak punya uang sama sekali untuk biaya pengobatan. Jadi, saya menjual putri saya kepada seorang kerabat," tutur Saeed Ahmad.

Saeed Ahmad membuat kesepakatan dengan kerabatnya agar sisa pembayaran diangsur dan sang anak baru boleh dibawa pergi setelah lima tahun.

"Jika saat itu saya mengambil seluruh uangnya, dia pasti sudah dibawa pergi. Jadi saya katakan kepada kerabat itu, berikan saja dulu uang yang cukup untuk pengobatannya sekarang. Sisa pembayarannya bisa dicicil dalam lima tahun ke depan, setelah itu barulah dia boleh membawanya," jelas Saeed Ahmad.

Saeed Ahmad mengaku langkah tersebut merupakan satu-satunya cara agar putrinya tetap mendapatkan penanganan medis dan selamat dari penyakit usus buntu serta kista hati.

"Jika saya punya uang, saya tidak akan pernah mengambil keputusan ini," ucap Saeed Ahmad lirih.

Saeed Ahmad menambahkan penyesalannya terkait kondisi keuangan yang menjepitnya tersebut.

"Namun saat itu saya berpikir, bagaimana jika dia meninggal karena tidak dioperasi? Setidaknya, dengan cara ini, dia tetap hidup," kata Saeed Ahmad.

"Saya tidak punya uang untuk membayar pengobatan. Jadi saya menjual putri saya kepada seorang kerabat," kata Saeed Ahmad dalam laporan Tirto.

"Jika saya punya uang, saya tidak akan pernah mengambil keputusan ini," kata Saeed Ahmad.

"Tetapi kemudian saya berpikir, bagaimana jika dia meninggal tanpa operasi? Dengan cara ini setidaknya dia akan hidup," tutur Saeed Ahmad.

"Saya bersedia menjual putri saya. Saya miskin, terlilit utang dan tidak berdaya," katanya sembari menangis.

"Anak-anakku mendatangiku sambil berkata, 'Baba, beri kami roti'. Tapi apa yang bisa saya berikan? Di mana bisa menemukan pekerjaan?" ujar Abdul Rashid Azimi.

Kondisi ini membuat warga berkumpul setiap fajar di alun-alun Chaghcharan untuk mencari pekerjaan harian kasar, meskipun kesempatan kerja sangat tipis.

"Sudah tiga malam anak-anak tidur kelaparan. Istri saya terus menangis, begitu juga anak-anak saya," katanya.

Juma Khan menceritakan beratnya beban hidup yang ia tanggung hingga harus meminta bantuan dari lingkungan sekitar rumahnya.

"Jadi saya mengemis kepada tetangga untuk meminjam uang guna membeli tepung. Saya sampai harus mengemis pinjaman tepung kepada tetangga. Saya hidup dalam ketakutan bahwa anak-anak saya akan mati kelaparan," tutur Juma Khan.

Juma Khan menambahkan ketakutan terbesarnya mengenai kondisi fisik anak-anaknya.

"Saya hidup dalam ketakutan bahwa anak-anak saya akan mati kelaparan," kata Juma Khan.

Keputusasaan yang sama juga dirasakan oleh warga lain bernama Rabani yang mengantre pekerjaan di lokasi tersebut.

"Saya ditelepon dan diberitahu bahwa anak-anak saya belum makan selama dua hari," kata Rabani, suaranya tersendat.

Rabani bahkan mengaku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi tersebut.

"Saya merasa ingin bunuh diri. Tapi kemudian saya berpikir, bagaimana melakukan itu bisa membantu keluarga saya? Jadi saya di sini mencari pekerjaan," kata Rabani.

"Saya mendapatkan telepon yang mengatakan bahwa anak-anak saya belum makan selama dua hari," kata Rabani.

"Saya merasa harus bunuh diri. Tapi kemudian saya berpikir bagaimana hal itu bisa membantu keluarga saya?" ujar Rabani.

Kemiskinan yang merata ini dikonfirmasi oleh warga desa yang mengaku sama sekali tidak mendapatkan pasokan logistik dari pihak otoritas.

"Kami tidak menerima bantuan dari siapa pun, baik dari pemerintah maupun LSM," keluh seorang warga desa bernama Abdul Malik.

"Kami tidak mendapat bantuan dari siapa pun—tidak dari pemerintah, tidak dari LSM," kata seorang penduduk bernama Abdul Malik kepada Tirto.

Menanggapi krisis kemanusiaan ini, wakil juru bicara pemerintah Taliban, Hamdullah Fitrat, menyatakan bahwa kemiskinan saat ini merupakan warisan dari salah kelola pemerintahan era invasi Amerika Serikat.

"Selangan 20 tahun invasi, pertumbuhan ekonomi semu tercipta karena masuknya dolar AS. Setelah invasi berakhir, kami mewarisi kemiskinan, kesulitan, pengangguran, dan masalah lainnya," kata Hamdullah Fitrat.

Pemerintah Taliban menyatakan sedang menyiapkan proyek infrastruktur dan pertambangan jangka panjang untuk membuka lapangan kerja baru bagi warga Afghanistan.

Di sisi lain, penderitaan warga Afghanistan semakin berlipat ganda setelah Badan Kesiapsiagaan Bencana Nasional melaporkan adanya 285 korban tewas dan 354 luka-luka akibat bencana alam sejak awal kalender tahun ini.

"Alhaj Mullah Nooruddin Turabi, kepala badan tersebut, telah menginstruksikan semua kantor provinsi untuk menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk segera membantu keluarga yang terkena dampak dan mendistribusikan bantuan yang diperlukan," kata Mohammad Yousuf Hamad, juru bicara Badan Kesiapsiagaan Bencana Nasional.

Departemen Meteorologi Kementerian Perhubungan dan Penerbangan Afghanistan memprediksi curah hujan berkisar antara 10 hingga 30 milimeter masih akan mengguyur sejumlah wilayah utara, timur laut, dan tengah negara tersebut.

"Menurut model prakiraan cuaca, hujan yang tersebar diperkirakan terjadi hari ini dan besok di sebagian wilayah utara, timur laut, dan tengah negara, dengan tingkat curah hujan berkisar antara 10 hingga 30 milimeter di berbagai daerah," kata Mohammad Nasim Moradi, kepala Departemen Meteorologi.

Banjir bandang di wilayah Baghlan merusak lahan pertanian, memutus jaringan telekomunikasi fiber optik, dan menghanyutkan hewan ternak warga.

"Akibat hujan lebat dan hujan es, banjir melanda daerah ini, menyebabkan kerugian manusia dan finansial, dan banyak peternak kehilangan hewan ternak mereka," kata Khair Mohammad, seorang warga Baghlan.

Warga di wilayah terdampak seperti Badakhshan mendesak pemerintah untuk segera menyalurkan bantuan perbaikan infrastruktur jalan dan rumah yang rusak.

"Banjir menyebabkan kerusakan finansial besar pada rumah, jalan, dan lahan pertanian. Kami meminta pemerintah untuk bekerja sama dengan masyarakat yang terkena dampak," kata Ghafour, seorang warga Badakhshan.

Artikel terkait

Rekomendasi