Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan kriteria ideal calon Ketua Umum PBNU dalam menyongsong Muktamar ke-35 yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang.
Kriteria pemimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut merujuk pada profil kiai karismatik sekaligus mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sebagaimana dilansir dari Nasional.
"Kalau cari model, ya model Gus Dur ya. Sulit, tapi ya tidak harus persis seperti Gus Dur," katanya dalam acara Gaspol Kompas.com, ditayangkan Kamis (7/5/2026).
Gus Ipul menjelaskan bahwa pola kepemimpinan yang ditinggalkan Gus Dur secara konsisten diupayakan untuk dilanjutkan oleh para penerusnya di kursi ketua umum. Ia menyebut sejumlah nama mulai dari Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Said Aqil Siradj, hingga kepemimpinan saat ini di bawah Gus Yahya.
"Hanya tidak bisa sempurna, tapi upaya itu sebetulnya ada," sambung Gus Ipul.
Optimisme muncul mengenai kehadiran sosok pemimpin yang tepat dalam forum Muktamar nanti guna menjaga mandat sejarah organisasi. Penegasan mengenai ketersediaan kader potensial di internal NU juga disampaikan untuk memimpin di masa depan.
"Saya belum berani sebut nama tapi InsyaAllah NU punya banyak kader yang mampu untuk memimpin ke depan ini sebagai amanat sejarah meneruskan kepemimpinan-kepemimpinan sebelumnya," kata Gus Ipul.
Meski menjabat sebagai Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 dan mendapatkan dorongan dari berbagai pihak untuk mencalonkan diri, Saifullah Yusuf memberikan kepastian mengenai posisinya. Ia memilih untuk tidak ikut serta dalam bursa pemilihan ketua umum.
"Ada dorongan tapi saya enggak, saya sudah memutuskan untuk tidak maju dan tadi merasa tidak memenuhi syarat. Banyak yang lain lah. Saya kira banyak yang lain yang lebih memenuhi syarat, dan saya akan tetap membantu," ucapnya.
Fokus utama dalam pengabdian di PBNU disebutnya bukan pada jabatan, melainkan upaya mencari keberkahan melalui pelayanan kepada masyarakat dan kiai. Kontribusi bagi bangsa melalui wadah organisasi dinilai sebagai tujuan utama para kader.
"Karena yang penting di NU itu cari berkah, yang penting cari berkahnya, kumpul dengan ulama, kumpul dengan kyai, melayani masyarakat melayani umat, berkontribusi untuk bangsa melalui NU. yang kita cari itu berkahnya," tandasnya.