Kebijakan ekonomi dan manuver politik Presiden RI Prabowo Subianto kini tengah menjadi sorotan dunia internasional. Majalah keuangan terkemuka asal London, Inggris, The Economist, melontarkan kritik tajam yang memicu perbincangan hangat di kalangan netizen Indonesia.
Seperti dikutip dari Suara, gelombang kritik tersebut termuat dalam sejumlah artikel dan unggahan di media sosial resmi milik mereka. Akun X milik media tersebut, yang memiliki 26 juta pengikut, terpantau mengulas tema terkait Indonesia dan Prabowo sebanyak 9 kali dalam rentang waktu 15 hingga 17 Mei 2026.
Media yang telah berdiri selama 182 tahun tersebut mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap masa depan demokrasi serta stabilitas finansial Indonesia di bawah kepemimpinan baru. Mereka menilai gaya kepemimpinan yang diterapkan cenderung membawa risiko politik yang cukup besar.
"Prabowo Subianto mungkin telah mengubah dirinya menjadi kakek penyayang kucing, tetapi temperamen mantan jenderal ini sangat mudah berubah sehingga bahkan sekutunya pun khawatir akan demokrasi Indonesia," kritik The Economist.
Selain menyoroti aspek kepemimpinan, media internasional ini juga mencemasi arah pembangunan ekonomi nasional. Fokus utama kritik tertuju pada potensi pembengkakan defisit anggaran yang dianggap bisa melampaui batas aman.
"Prabowo Subianto memusatkan kekuasaan, meminggirkan oposisi, dan menghabiskan dana melebihi kemampuan Indonesia. Ia dapat membatalkan 20 tahun kemajuan ekonomi dan politik," tulis The Economist.
Langkah pemerintah yang dinilai berisiko adalah rencana menembus batas aman defisit anggaran sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Alokasi anggaran tersebut direncanakan untuk mendanai sejumlah program berskala besar, seperti proyek koperasi serta program makan siang gratis.
"Di sektor politik, gaya kepemimpinan Pak Prabowo menunjukkan tren otoriter melalui sentralisasi kekuasaan dan penempatan penasihat yang antikritik di lingkaran dekatnya. Penggantian figur otoritas keuangan yang kredibel dengan sosok yang mengabaikan dinamika ekonomi global semakin mengisolasi pemerintah dari kenyataan. Untuk menghindari krisis yang lebih dalam, Presiden harus segera mengubah haluan menuju kebijakan yang lebih pragmatis dan tepat sasaran. Alokasi anggaran sebaiknya difokuskan pada sektor krusial, seperti pemenuhan gizi ibu hamil dan balita untuk mencegah stunting, serta memulihkan kepercayaan pasar sebelum mengubah aturan defisit," ungkap The Economist pada postingan viral.
Sorotan tajam dari media barat ini memicu rasa penasaran publik mengenai siapa sosok di balik pengelolaan grup media tersebut. Berdasarkan informasi resmi dari laman perusahaan, media ini beroperasi di bawah payung The Economist Group yang berpusat di distrik The Adelphi, London.
James Wilson, seorang ekonom asal Skotlandia, mendirikan surat kabar ini pertama kali pada September 1843. Pada masa awal berdirinya, media ini fokus menyuarakan dukungan untuk menghapus Undang-Undang Jagung Inggris yang mengatur sistem proteksi impor.
Dalam hal independensi, kepemilikan saham perusahaan ini dirancang secara khusus agar tidak didominasi oleh satu pemegang saham tunggal saja. Sahamnya tersebar di antara deretan keluarga konglomerat serta investor institusi global terkemuka.
"The Economist adalah bagian dari The Economist Group, sebuah perusahaan swasta dengan struktur kepemipikan khusus yang dirancang untuk menjaga independensi editorial. Pemegang sahamnya telah ada sejak lebih dari seabad yang lalu, dan termasuk nama-nama besar dalam bisnis Inggris, seperti Sainsburys, Cadburys, dan Schroders. Pemegang saham lainnya saat ini termasuk dana yang dimiliki oleh keluarga Agnelli dan Rothschild. Banyak staf The Economist Group juga memiliki saham, yang diperdagangkan secara pribadi dua kali setahun," bunyi keterangan pada laman resmi The Economist dikutip Senin (18/5/2026).
Perubahan peta kepemilikan sempat terjadi pada tahun 2015 ketika Pearson plc menjual saham mereka melalui The Financial Times Limited. Saham tersebut kemudian mayoritas beralih ke tangan keluarga Agnelli melalui perusahaan induk Exor.
Exor kini tercatat memegang kepemilikan saham sekitar 43,4 persen, sementara pihak The Economist Group sendiri menguasai 29,9 persen. Sisa saham lainnya dipegang oleh nama-nama besar seperti Cadbury, Schroder, Layton, serta keluarga Rothschild yang memiliki porsi di atas 20 persen.
Kabar terkini menyebutkan bahwa Lynn Forester de Rothschild tengah dalam proses menjual seluruh 26,9 persen saham keluarganya kepada miliarder asal Kanada, Stephen Smith. Kendati demikian, nama keluarga Rothschild masih tetap terdaftar dalam struktur resmi pemilik saham hingga Mei 2026.